ACEH TIMUR – Mendagri yang juga Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera, Tito Karnavian menyebut sebagian korban banjir bandang di Aceh hingga kini masih menempati tenda pengungsian. Terutama di wilayah Aceh Tamiang dan Aceh Utara.

Namun, Tito mengaku belum menerima laporan soal warga di Aceh Timur masih tinggal di tenda darurat.

Tito menilai diperlukan kerja keras agar para penyintas banjir dapat dipindahkan dari tenda pengungsian ke hunian sementara (huntara) sebelum perayaan Idulfitri 1447 Hijriah.

Hal tersebut disampaikan Tito kepada wartawan usai kegiatan penyerahan santunan ahli waris, jaminan hidup, bantuan isi hunian, serta bantuan stimulan sosial ekonomi bagi masyarakat korban banjir bandang dari Kementerian Sosial RI. Penyerahan bantuan itu dilakukan Tito bersama Menteri Sosial RI, Saifullah Yusuf, di Pendopo Bupati Aceh Timur, di Idi Rayeuk, Senin, 16 Maret 2026.

Kegiatan itu dihadiri Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky, Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, Wakil Bupati Aceh Timur T. Zainal Abidin, Kapolda Aceh Marzuki Ali Basyah, serta sejumlah unsur Forkopimda lainnya.

Tito menjelaskan, sejumlah huntara masih dalam proses pembangunan. Setelah selesai, huntara tersebut akan segera diserahterimakan agar dapat ditempati oleh warga yang selama ini tinggal di tenda pengungsian.

Menurut Tito, jumlah warga yang masih tinggal di tenda paling banyak berada di Aceh Tamiang dan Aceh Utara. Sementara terkait kondisi di Aceh Timur, Tito menyebut kemungkinan adanya perbedaan data sehingga belum mendapat laporan tentang masih adanya warga tinggal di tenda pengungsian.

“Karena huntara sampai saat ini ada yang sedang dibangun. Begitu selesai dikerjakan akan dilakukan serah terima agar bisa ditempati warga, dan tenda-tenda tersebut kemudian dipindahkan,” ujar Tito.

Tito menegaskan, proses relokasi harus dilakukan secara bertahap. Pemerintah tidak ingin tenda pengungsian dibongkar sebelum warga benar-benar menempati huntara.

“Kita harapkan sebelum lebaran, penyintas banjir yang masih tinggal di tenda di Aceh Tamiang maupun Aceh Utara sudah bisa menempati huntara, yang sebagian masih dalam proses pembangunan,” kata Tito.

Pembangunan Huntap Dipercepat

Tito menyebut para kepala daerah di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat juga berharap pembangunan hunian tetap (huntap) dapat dipercepat. Huntap tersebut diperuntukkan bagi warga yang rumahnya rusak berat atau hilang akibat bencana.

Sambil menunggu pembangunan huntap selesai, para korban untuk sementara tinggal di huntara yang dibangun oleh berbagai pihak, seperti Kementerian Pekerjaan Umum, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Danantara, hingga organisasi kemanusiaan seperti Dompet Dhuafa.

Untuk mempercepat proses tersebut, Tito meminta kepala daerah membentuk tim Satgas gabungan melalui keputusan bupati. Tim tersebut melibatkan BNPB, Dinas Sosial, serta aparatur desa termasuk para keuchik.

Menurut Tito, tim ini bertugas melakukan pendataan lebih rinci dengan mendatangi langsung warga korban banjir. Mereka akan menanyakan apakah warga bersedia menempati huntap yang dibangun pemerintah atau memilih membangun rumah sendiri dengan bantuan dana sebesar Rp60 juta dari pemerintah, dengan syarat memiliki tanah pribadi.

“Hal ini harus dipastikan dengan jelas dan dibuatkan surat pernyataan agar tidak terjadi perubahan keputusan dari calon penerima bantuan,” kata Tito.

Tito menyebut berbagai bantuan lain bagi penyintas banjir juga telah disalurkan melalui Kemensos. Pemerintah memastikan proses pembangunan hunian dilakukan secara bertahap dan tidak ada warga yang dibiarkan tanpa tempat tinggal pascabencana.[]