BANDA ACEH – Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Aceh sangat merasakan kehilangan salah satu kader intelektual atas meninggalnya Munir Aziz, Senin, 8 Januari 2018. Kepergian politisi senior PPP Aceh ini sangat mengejutkan semua pihak, apalagi baru tiga hari yang lalu ibu almarhum juga meninggal dunia.

Seperti diketahui, almarhum Munir Aziz menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin, Banda Aceh, usai mengalami sesak nafas Minggu, 7 Januari 2018 malam. Dia meninggal di usia 58 tahun. Jenazah almarhum dikebumikan di tanah kelahirannya, Seulimum, Aceh Besar.

“Kami merasa kehilangan besar terutama bagi partai sendiri atas meninggalnya beliau. Apalagi dengan sangat tiba-tiba begini,” kata Wakil Ketua Bidang OKK DPW PPP Aceh, Ihsanuddin MZ, saat dihubungi portalsatu.com/.

Kolega almarhum mengenal Munir Aziz sebagai sosok yang sangat berkompeten. Almarhum juga dinilai berkontribusi besar kepada partai semasa hidup.

“Saya selaku atas nama partai PPP merasa sangat kehilangan beliau, karena sosok yang punya prinsip dan kemampuan untuk meramu sesuatu dalam bentuk tulisan, dan beliau memiliki ide yang cukup cerdas,” ungkapnya.

Ihsanuddin mengenang hari-hari sebelum almarhum meninggal dunia, yang masih sempat menerima tamu datang ke rumah untuk melayat atas kepergian ibunda almarhum. Ihsanuddin mengatakan kondisi almarhum juga terlihat sehat pada Minggu siang.

“Sehari atau pada Minggu siang, beliau terlihat masih sehat karena beliau duduk dengan tamu-tamu yang undang, termasuk Umam Hamid, Barlian AW, dan lain-lain teman-teman beliau semasa kepengurusan KNPI Aceh dahulu. Terus masih bisa bersenda gurau, masih bisa ngomong, dan masih bisa bercerita-cerita,” kata Ihsanuddin.

Ihsanuddin menyebutkan almarhum yang terlihat sibuk menyambut tamu kemudian mengeluhkan terasa sesak di bagian dada pada Minggu sore. Kemudian para kerabat membawanya ke Rumah Sakit Umum Zainal Abidin dari Seulimum.

“Lalu kira-kira beberapa jam di rumah sakit atau sekitar jam 00.40 WIB, beliau meninggal dunia,” kata Ihsanuddin.[]