Secangkir Kopi Susu di Mejaku
Secangkir kopi susu di mejaku.
Aku tidak tahu airnya dari sumur mana, siapa yang menggalinya, siapa yang memilih sumur di sana
Secangkir kopi susu di mejaku.
Aku tidak tahu biji kopinya dari kebun mana, siapa pemetiknya, siapa pemiliknya, siapa penjemurnya, siapa penggilingnya, siapa penggonsengnya.
Secangkir kopi susu di mejaku.
Aku tidak tahu susunya dari lembu di peternakan mana, siapa pemiliknya, siapa pemerahnya, siapa pengolahnya.
Secangkir kopi susu di mejaku.
Aku tidak tahu gulanya dari tebu kebun mana, siapa penggilingnya, siapa pembuatnya.
Secangkir kopi susu di mejaku.
Aku tidak tahu cangkir keramiknya dibuat dari tanah di mana, siapa senimannya
Dinkitaku, tidak ada peternakan lembu perah, kebun kopi, rumah keramik.
Untuk secangkir kopi susu di mejaku telah melibatkan orang-orang yang tidak kukenal.
Secangkir kopi susu di mejaku.
Yang kutahu hanya siapa penyeduhnya.
Tidak ada nikmat Tuhanku yang dapat yang kudustakan,
tetapi mengapa belum juga bisa kusyukuri sebagaimana para penyujud itu menysyukurinya.
Banda Aceh, 13 Mei 2025 / 15 Zulkaidah 1446 H.
Thayeb Loh Angen (Muhammad Thaib bin Sulaiman).








