Perbedaan menjadi hal yang menarik dari kunjungan dua penggiat sejarah International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC/Institut Antarabangsa Pemikiran dan Tamadun Islam), Universitas Islam Internasional Malaysia (Universiti Islam Antarabangsa Malaysia/UIAM), ke beberapa situs sejarah Samudra Pasai hingga makam Malikah Danir di Munje Tujoh, Pirak Timu, 10 Agustus 2018. 

Diskusi alot karena sering berbeda pendapat di setiap situs yang didatangi hingga ke meja makan menghilangkan penat perjalanan dari Banda Aceh menuju Pirak Timu, hari itu. Perbedaan versi sejarah hingga penyebutan, canca, moto dan lain-lain.

Di Munje Tujoh, Pirak Timu, meski hasil bacaan pada epitaf nisan oleh Cisah telah jelas tersebut Malikah Danir, tapi para ahli sejarah lain masih menyebut dengan Ratu Nurul ‘Aqla, Nurul A’la, Nurul Ilah, Wabisah. Bahkan, menurut Tengku Ahmad, karena tulisan Jawi/Melayu kunonya memiliki karakter yang mirip dengan tulisan bahasa Pali, dia mengaitkan dengan seorang Ratu Melayu di Fatani yang memiliki hubungan erat dengan Sriwijaya, bukan Majapahit seperti penggiat sejarah lain pula.

Kunjungan Presiden Persatuan Pelajar ISTAC, Tengku Ahmad Rida Audin (46) bersama Nur Azlina (46) itu didampingi Urzal Pedir Museum, Abel Pasai Cisah, Andi KUA, dan Banta PID Nibong.

Tengku Ahmad mengaku sebenarnya sedang fokus meneliti tentang persenjataan Kesultanan Islam Melayu dan wafaq (azimat/ilmu kebatinan dalam Islam). Sedangkan Nur Azlina fokus pada penelitiannya tentang bahasa pelabuhan di Semenanjung Selat Malaka. 

Tengku Ahmad dan Nur Azlina mengakui bahwa hasil penelitian Cisah dan Mapesa sangat orisinal dan autentik. Tengku Ahmad berpesan bahwa sejarah itu perlu pengakuan dan kemudian dapat bermanfaat sebagai khasanah ilmu pengetahuan bagi umat manusia.

Dia mencontohkan, dirinya ketika menulis paper hasil penelitiannya tentang silsilah Raja Melayu, dia mendapat sokongan penuh dari pemerintahan Malaysia dan UIAM untuk dipaparkan dan dibedah di hadapan para duta besar negara-negara terkait. “Semoga sejarah Islam yang telah menjadi hasil kajian selama ini di Aceh juga dapat dipaparkan dan dibedah di depan perwakilan setiap negara terkait,” harap Tengku Ahmad.

Lebih lanjut Tengku Ahmad mengajak, “Atas perbedaan hasil penelitian atau referensi yang selama ini ada, kita berharap bila-bila masa nanti kita akan kembali ke Aceh dengan tim yang lebih komplit dan waktu yang lebih luas. Atau bila ada pertemuan sejarawan Melayu di Malaysia misalkan, kita harap Cisah, Mapesa dan Pedir Museum-lah yang mewakili daripada Aceh atau Indonesia.”[]

Penulis: Andi Saputra KUA Nibong