Kamis, Juli 25, 2024

Cari HP di Bawah...

Mencari HP dengan harga terjangkau namun tetap memiliki performa yang handal memang bisa...

Siswa Diduga Keracunan Selepas...

SIGLI - Jumlah siswa yang dirawat akibat dugaan keracunan setelah konsumsi nasi gurih...

Spanduk Dukungan Bustami Maju...

LHOKSEUMAWE - Sejumlah spanduk berisi dukungan kepada Bustami Hamzah untuk mencalonkan diri sebagai...

Yayasan Geutanyoe Rayakan Hari...

LHOKSEUMAWE - Yayasan Geutanyoe merayakan Hari Anak Nasional tahun 2024 bersama 227 anak...
BerandaInspirasiSejarahSejarah Pusat Pendidikan...

Sejarah Pusat Pendidikan Islam di Oboh, Didirikan Tuan Syekh Hamzah Fansuri

SUBULUSSALAM – Setelah berdiam di Oboh, Tuan Syekh Hamzah Fansuri mendirikan pusat pendidikan Islam yakni Meunasah atau sekarang lebih akrab disebut Dayah.

Satu per satu masyarakat mulai berdatangan belajar di sana, termasuk Syekh Abdurrauf As-Singkili yang makamnya di Desa Deyah Raya, Syekh Kuala, Banda Aceh. Aktivitas pengajian di Meunasah mulai bertambah, rumah-rumah waktu mulai dibangun tempat mereka tinggal.

“Muridnya mulai bertambah, rumah-rumah penduduk sudah mulai ada,” kata Imam Kampong Oboh Khalid Ujung didampingi penjaga makam Ali Akbar saat menerima kedatangan wartawan saat berziarah ke makam ulama kharismatik Aceh tersebut.

Selain mengajar masyarakat mengaji di Meunasah itu, dalam riwayat juga disebutkan Syekh Hamzah Fansuri juga menyebarkan ajaran Islam di kutaraja, Banda Aceh saat ini. Menurut, Khalid Ujung diperkirakan Syekh Hamzah Fansuri berada di kutaraja pada masa Kesultanan Alaidin Riayat Syah IV Saiyidil Mukammil (997-1011 H-1589-1604 M) sampai ke permulaan pemerintahan Sultan Iskandar Muda.

Dalam perjalanannya menyebar ajaran Islam,  Syekh Hamzah Fansuri juga kembali ke Oboh untuk mengajar mengaji murid-muridnya. Tidak hanya di Aceh dan di pulau Jawa, Syekh Hamzah Fansuri juga sampai ke Timur Tengah melakukan syiar Islam.

“Kalau perjalanan ulama dulu, pejamkannya matanya sudah sampai ke daerah yang ditujukan, bukan seperti kita sekarang pakai kendaraan,” ucap Khalid Ujung yang mengaku hanya sedikit hal yang ia ketahui tentang sejarah Syekh Hamzah Fansuri.

Sambil menceritakan sejarah singkat Syekh Hamzah Fansuri, Iman Kampong Oboh Khalid Ujung juga mengajak portalsatu.com melihat langsung batu nisan Makam Syekh Hamzah Fansuri.

Makam itu  berada di dalam ruangan yang ditutupi dengan kelambu berwarna kuning. Terdapat tiga batu nisan di dalamnya yang dipercayai sebagai makam Syekh Hamzah Al-Fansuri dan istri serta anaknya.

Sedangkan di luarnya ada makam mertua perempuan dan laki-lakinya serta murid dan sahabat Syekh Hamzah Al-Fansuri. Tempat tersebut telah direnovasi dan dibuat seperti bentuk masjid.

Imam Kampong Oboh, Khalid Ujung didampingi penjaga makam, Ali Akbar menceritakan sosok ulama sufi ini, mereka menyebutknya Tuan Syekh Hamzah Fansuri berasal dari Barus datang ke mari (Oboh sekarang) ditemani martuanya dengan membawa dua pohon beleboh.

Pohon beleboh itu ditanam tepatnya sekitar 50 meter arah depan Makam Syekh Hamzah Fansuri dan sekira 500 meter di bagian belakang makam. Sejarah inilah menjadi cikal bakal lahirnya Kampong Oboh.

“Tuan Syekh Hamzah Fansuri dalam sejarahnya, dia menanam pokok kayu beleboh sekitar 50 meter di depan makam, ke bawah ada sekitar 500 Meter. Itulah sejarahnya ini disebut jajahan beleboh sehingga disebut Kampong Oboh,” ucap Khalid Ujung.[]

Baca juga: