Bireuen – Sebuah kesuksesan tidak akan tercapai kalau tidak ada dua hal. Pertama ada niat baiknya dan kedua tahu caranya. Kata filosofi tersebut diungkapkan Ketua Umum Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) Tgk H Muhammad Yusuf A Wahab atau Tu Sop Jeunieb kepada Bupati dan Ketua DPRK Bireuen dalam acara Pojok Tazkirah, Jumat, (19/06/2020) malam.
Tu Sop menyebut kedunguan terjadi juga pada orang-orang yang berbuat baik. Kenapa dikatakan dungu karena niatnya baik kadang caranya yang tidak baik. Dalam istilah bahasa Arab, “kedunguan harus dijauhi, jangankan kita jadi orang dungu, orang dungu yang lain jika bersama harus dijauhi agar kedunguanya tidak menular ke kita”.
“Siapa itu orang yang dungu? Yaitu orang yang niatnya bagus caranya yang tidak benar. Sebagus apapun niatnya apabila tidak didukung oleh pola dan strategi yang benar dia akan menjadi sebuah kegagalan bahkan sebuah kerugian. Oleh karena itu lakukan komunikasi supaya menemukan rumus-rumus dengan formula baru dan strategi baru,” sebut Tu Sop, yang juga Pimpinan Yayasan Dayah Bersaudara (Yadara) Grup.
Selain itu Tu Sop juga berbicara mengenai New Normal. Menurutnya, New Normal itu bisa diartikan sebagai sebuah keseimbangan. “Setiap pribadi kita diperintahkan untuk menjaga keseimbangan, dengan kata lain jika kita tidak melarat jangan membuat orang lain melarat, kamu tidak dizalimi orang dan jaga keseimbangan agar orang lain juga tidak menzalimi kamu”.
Begitu juga dalam pemerintahan seperti yang disampaikan Bupati Bireuen dalam acara itu, dulunya ia hanya seorang birokrasi saja, tapi sekarang bukan lagi. “Sekarang beliau akan menghadapi politik, pembangunan dan birokrasi pemerintahan,” kata Tu Sop.
Tu Sop menyebut untuk hal tersebut juga dibutuhkan sebuah balance. “Setelah dilantik sebagai bupati definitif sebenarnya Pak Bupati sudah memasuki New Normal”.
“Oleh karena itu, jagalah keseimbangan, lakukan komunikasi politik dengan seluruh stakeholder dari semua sisi. Itulah tugas seorang pemimpin dan juga kita rakyat terus membantu, beliau tidak sanggup sendiri, kalupun kita tidak sanggup membantu setidaknya tidak menghacurkan,” uar Tu Sop yang juga Dewan Pembina Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI).[] Rilis



