Oleh: Taufik Sentana
Inisiator dan konsultan di Al-Banna Internasional College Aceh. Bergabung di forum JSIT Aceh Barat.

Secara historis, sekolah Islam (tepatnya pendidikan Islam) telah mencapai idealitasnya sesuai zaman dengan dinamikanya utuh, relevan dan memengaruhi cara berfikir siapapun. Secara umum, tumpuan orisinalitasnya adalah ada dalam nilai akidah dan semua visi Islam. Jadi, dalam perkembangannya, pendidikan Islam mesti bersinggungan dengan ragam wacana, dialektika dan semua unsur kebudayaan.

Jadi munculnya stigma Islam ekslusif dan puritan hanyalah suatu generarisil yang dipaksakan, dengan memandang Islam (sekadar dari Arab saja, padahal Islam datang dari sisi Allah lewat risalah para Nabi). Setidaknya, sekolah modern selevel Darusssalam Gontor dapat dijadikan acuan, bagaimana menyatukan kutub Arab dan Barat: bagaimana menjaga tradisi Islam dengan tetap mengakomodir kebaruan yang baik/ashlah.

Berdasarkan pandangan kecil di atas, tampak bahwa sekolah Islam ideal itu ada, sejalan dengan konsep Islam yang menyeluruh dan total: Menolak idealitasnya sama dengan menolak idealita dan cita besar Islam sebagai panduan hidup. Menurut studi empiris saudara kami Andhika, pola ideal dalam sekolah Islam itu mengandung unsur kerja, mengenalkan Islam, memahamkan dan mengamalkan (hidup dengan nilainya), ini sebagai siklus yang kontinyu dan terus melebar hingga menyebarkan rahmatan Lil alamin.

Inilah peran berat yang diemban para pelaku pendidikan sekolah Islam. Baik yang berbasis klasik-murni, modern dan kejuruan, idealitasnya diukur dalam spektrum keluasan dan keluwesan ajaran Islam itu sendiri. Ini pula yang menjadi akar pohon pengetahuan para pelajar muslim dalam merealisasikan tujuan hidup, kesejahteraan dunia dan akhirat. Jadi seorang pelajar muslim itu, tidak memandang keutuhan ilmu dan konsentrasinya, tapi terus mengembangkan ilmu, inovasi dan menyelaraskan dengan cita besar Islam, sebagai individu dan komunitas.

Di forum yang kecil ini, penulis tidak membedakan sekolah Islam secara praktik, karena kita sedang membincangkan idealitasnya, seklasik apapun sekolah Islam, tetaplah ia bersinggungan dengan gelombang pemikiran dunia, budaya, nilai nilai dan tantangan sosial-ekonomi-politik. Dalam istilah hikmah disebutkan, ‘di manapun engkau berada, engkau bertanggung jawab atas kehidupan Islam dalam lingkungan tersebut’.

Berdasarkan upaya mewujudkan idealita universalitas Islam tadi dan kenyataan kultural masyarakat muslim (Indonesia dan dunia), semakin akrab di telinga kita tentang “Islamic School”, Program Quran, Pondok Tahfizh, lembaga Kuttab (khas sekolah dasar Islam klasik), dan berkembangnya program pendidikan Islam dengan segala basis dan konsentrasi. Tugas kita selanjutnya adalah menjaga keseimbangan peran pendidikan Islam, menghidupkan forum forum terintegrasi dalam perbaikan, tajdid dan revitalisasi program programnya.

Kenyataan kultural tersebut bukan semata trend dan harapan kosong tanpa arah perbaikan masyarakat muslim (takwimul ummah). Pada poin ini, keluarga, sekolah dan pemerintah hendaknya memiliki.

Visi besar bersama dalam merealisasikan cita cita pendidikan Islam yang kita maksud. Agar idealita dan kerahmatan Islam itu wujud dalam tatanan sosial dan menyokong peradaban umat. Artinya setiap lembaga pendidikan menjadi perekat dan pemberdaya ummat.

Beberapa langkah yang dapat diterapkan oleh penyelenggaraan pendidikan adalah,
Pertama, menyelaraskan visi pendidikan Islam yang komprehensif, perbaikan dan penguatan sistem kurikuler yang sudah ada dengan rangkaian program keummatan, seperti kemandirian ekonomi, digitalisasi dan teknologi.

Kedua, keterbukaan pihak sekolah dalam membangun sistem layanan pendidikan berbasis nilai/semangat Islam-kontemporer, menghargai setiap kritik, keluhan dan terus fokus dalam melayani generasi baru Islam.

Ketiga, Mengantisipasi pergeseran nilai di tengah lingkungan sekolah/masyarakat pada jebakan sikap materialisme, kapitalisme dan sekularisme serta individualisme, sikap abai: yang melunturkan semangat keikhlasan, spiritualitas, daya juang dan khidmat.

Keempat, sinergi yang utuh antarpranata sosial dalam membangun sistem kontrol pendidikan sekolah yang berbasis kultural, kerjasama dan saling memperbaiki. Atau mengeksplorasi skala keilmuan dan rekayasa sosial dengan semangat ‘iqra Bismi Rabbik’ sehingga memaksimalkan pencapaian lembaga pendidikan sebagai mercu suar utama setiap kemajuan.

Bila kita merujuk kepada apa yang pernah dicapai oleh pendidikan masyarakat Islam, lembaga sekolah tidak bisa hanya bertumpu pada spesialisasi semata, namun secara bertahap menuju ahli dalam berbagai bidang (generalis ahli) yang memberikan dampak bagi kemajuan personal, maslahah dan kehidupan Islam, sejalan pula dengan titah kekhalifahan (memakmurkan kehidupan) di bumi untuk ta’abbud Li rabbil alamin.

Taufik Sentana
Inisiator dan konsultan di Al-Banna Internasional College Aceh. Bergabung di forum JSIT Aceh Barat.
Menyusun Buku Hijrah Pendidikan.
Antologi bersama Alumni santri Darul Arafah,
“Berani Hidup tak Takut Mati”-” Logika Kemuliaan Hidup”.
Berkhidmat dalam pendidikan Islam sejak 1996.