JAKARTA – Nilai tukar rupiah semakin melemah. Di pasar spot kurs rupiah tercatat sebesar Rp 14.935 per dollar AS melemah 0,81% dari hari sebelumnya, seperti dikutip Bloomberg, Selasa, 4 September 2018.

Dilansir kontan.co.id, di sejumlah bank besar, kurs jual dollar AS malah sudah menembus Rp 15.000. Dari 10 bank besar, kurs jual dollar AS di tujuh bank sudah melewati Rp 15.000.

Paling tinggi kurs jual dollar AS di CIMB Niaga yang mencapai Rp 15.150 pada Selasa (4/9). Sementara yang terendah kurs jual dollar di Bank Tabungan Negara (BTN) yakni Rp 14.939.

Mata uang regional

Koreksi yang dihadapi rupiah sulit dibendung. Tak hanya terhadap dollar Amerika Serikat, rupiah juga melemah di hadapan sejumlah mata uang regional atau dari negara tetangga.

Sebagai contoh, mengutip Bloomberg, Rabu, 5 September 2018, pukul 15.00 WIB, kurs rupiah menyusut 1,59% year to date (ytd) ke level Rp 10.692,96 per dollar Australia. Rupiah juga sudah terkoreksi 7,01% (ytd) dengan dollar Singapura di level Rp 10.818.

Mata uang garuda juga melemah 7,49% (ytd) dengan ringgit Malaysia di level Rp 3.601,57. Bahkan, saat ini rupiah berada di level terendahnya dengan mata uang asal Negeri Jiran tersebut.

Analis Monex Investindo Futures, Faisyal, berpendapat, pelemahan rupiah di hadapan mata uang regional merupakan efek dari perbedaan kondisi ekonomi di antara negara-negara yang bersangkutan. Ia pun menyebut, posisi defisit transaksi berjalan Indonesia yang melebar menjadi 3% di kuartal II 2018 berpengaruh besar terhadap koreksi rupiah terhadap sejumlah mata uang negara tetangga.

Sebagai negara emerging market, melebarnya defisit transaksi berjalan akan menambah beban suatu mata uang dalam menahan tekanan sentimen global seperti kenaikan suku bunga acuan AS dan perang dagang. Aksi penjualan di pasar saham dan obligasi pun rentan terjadi ketika kondisi tersebut berlangsung.

Lebih lanjut, adanya agenda politik juga mempengaruhi pergerakan rupiah dihadapan mata uang regional. Hal tersebut turut membuat para investor cenderung lebih waspada untuk berinvestasi pada aset dari negara emerging market, terutama yang sedang menghadapi agenda Pemilu.

“Ini juga membuat rupiah melemah dengan negara di sekitarnya, karena tidak semua negara dihadapkan pada kondisi tahun politik,” kata Faisyal.

Dia melanjutkan, jika tren pelemahan rupiah terhadap dollar AS masih berlanjut, maka potensi pelemahan mata uang garuda dengan mata uang regional juga cukup besar. Maka dari itu, penting bagi pemerintah untuk membuat kebijakan yang efektif dalam memperbaiki posisi defisit transaksi berjalan agar rupiah tidak ikut melemah dihadapan mata uang regional.

“Kalau hanya mengandalkan BI tidak cukup, karena sejauh ini yang efektif hanya kenaikan suku bunga,” imbuh Faisyal.[] Sumber: kontan.co.id