Oleh Yulia Erni*
Sempat berkali-kali dikabarkan meninggal dunia. Paling geger pada 28 April lalu. Beberapa media besar terpercaya juga menelan mentah berita duka palsu. Dalam hitungan menit, warga net secepat kilat menyebarluaskan berita yang setelah ditelusuri tak lebih dari hoax belaka. Entah dari mana sumber pertama berita tak bertanggung jawab tentang kepergian super agen Italia itu muncul. Padahal masih sama, masih berjuang melewati masa kritis dalam empat bulan terakhir.
Merasa dizalimi media dan oknum, di hari yang sama, dalam hitungan jam Mino Raiola langsung angkat bicara dengan kondisi memprihatinkan melalui akun Twitter pribadinya.
“Sangat kesal untuk kedua kalinya dalam empat bulan, mereka menyadarkan juga membunuh saya.”
Sebelumnya kepada media Italia, ANSA (Asosiasi Badan Pers Nasional) dokter yang secara khusus menangani Mino juga meluruskan berita kepergian pasiennya. Bahkan ia marah mendapat panggilan telepon dari beberapa jurnalis palsu berspekulasi tentang kehidupan pria berpaspor negeri Pizza yang sedang berjuang bertahan hidup melawan penyakit.
Kini bukan hoax lagi. Sabtu, 30 April 2022 sore waktu setempat, agen sepak bola top dunia itu benar-benar menghembuskan napas terakhir di usia 54 tahun di rumah sakit San Raffaaele Hospital.
Kabar duka itu dikonfirmasi pihak keluarga sang agen via akun resmi Twitter @MinoRaiola. Konfirmasi juga disampaikan oleh agen sekaligus jurnalis Sky Sports asal Italia, Fabrizio Romano. Ia memastikan bahwa seniornya telah meninggal dunia. Kesehatannya memburuk dan harus dilarikan ke rumah sakit pekan ini (meski pihak keluarga sempat murka saat hoax kematian telah beredar sebelumnya).
Sejauh ini belum diketahui secara pasti penyakit yang diderita pria berkacamata monokrom itu. Dugaan sementara dari rumor yang beredar faktor obesitas jadi pemicu.
Mari sedikit mengenang seberapa bertalenta dan pengaruh Mino Raiola di lapangan hijau.
Diketahui, pria blesteran Italia-Belanda ini pernah menangani sederet pemain bintang papan atas. Dia masih menyandang agen aktif hingga berita dukalah menghentikan semua.
Siapa yang tidak mengenal Kylian Mbappe, Erling Haaland, Matthijs de Ligt, Marco Verratti, Balotelli, Blaise Matuidi, Bonaventura, Lukaku, Mkhitaryan, atau duo muslim, gelandang Prancis imigran Guinea, Paul Pogba dan Zlatan Ibrahimovic penyerang Swedia imigran Bosnia. Nama terakhir turut menemani, tepatnya satu hari sebelum kepergian sang agen. Bukan kebetulan berada di kota yang sama (Milan), sebab Lord Ibra tidak memiliki bakat sandiwara. Dalam buku autobiografi “I Am Zlatan” pemain tempramental itu mendeskripsikan Mino dengan tiga kata: “Agenku, temanku, dan penasihatku.”
Meski di balik semuanya terdapat sebutan agen brilian paling kontroversial yang pernah ada. Menyebut profesinya, tentu saja perkara terletak pada harga klien yang membumbung tinggi. Ya, ia dicap sebagai agen besar komisi hingga menuai momok manajemen klub dan publik pecinta sepak bola dunia.
Yang kerap dihujat belakangan yaitu kala menuntut manajemen AC Milan membayar tarif baru kepada Gianluigi Donnarumma pascaantar klub berjuluk Rossonerri lolos Liga Champions tahun lalu setelah puasa lapangan tujuh musim. Tak tahan dengan cara negonya, kiper jangkung itu pun dilepas oleh Direktur Teknik AC Milan dari San Siro ke Paris Saint-Germain dengan status bebas transfer.
Dunia agen adalah dunia seratus persen marketing. Gonta-ganti harga sudah biasa. Tak patut publik sepak bola menyebut Mino pria rentenir. Masih ingatkah hukum ekonomi? Semakin banyak peminat harga pun terus meningkat. Kurang lebih begitu. Lagi pula agen pun tak memaksa. Cocok nomor, angkat barang. Tak ingin beli, tinggalkan saja. Gampang. Atau tunggu obral.
Semua dalam batas wajar. Apalagi ia bekerja di tengah trennya finansial modern sepak bola seperti lahirnya pertumbuhan Liga Primer Inggris dan Liga Champions Eropa. Kekaguman dan kebencian publik sepak bola dunia akan gayanya berjalan imbang. Prinsipnya ia terus melakukan kesepakatan terbaik antara manajemen klub, klien, dan tentu untuk dirinya.
Sejak pertama terjun ke dunia agen tahun 80-an, kesepakatan besar pertamanya adalah transfer Pavel Nedved dari Sparta Praha ke Lazio tahun 1996 dan terus berlanjut hingga kini bersama pemain-pemain superstar lain. Pecinta sepak bola pasti belum lupa ketika Paul Pogba memecahkan rekor dunia tahun 2016 dibeli Manchester United seharga 89 juta euro.
Mungkin Anda akan shock saat mengkalkulasikan nilainya dalam wujud rupiah. Lebih mudah dimengerti, angka tersebut mampu membeli lima sampai tujuh klub Liga 2 Tanah Air.
Layak disetujui tentang opini publik bahwa ia menulis babak baru dalam sejarah sepak bola modern. Sebab sepak bola telah lama meninggalkan loyalitas. Apakah kita masih menemukan sosok Paolo Maldini, Franco Baresi, Francesco Totti, Ryan Giggs, Paul Scholes, Carles Puyol atau Jamie Carragher di lapangan hijau sekarang?
Cerita serupa terus bersambung. Sebab kliennya Kylian Mbappe kini berada di puncak pemain termahal dunia yang dibanderol 160 juta euro, disusul rekannya Erling Haaland 130 juta euro dengan harga lepas klausul 75 juta euro yang digadang kemungkinan bakal berlabuh ke Real Madrid atau klub sultan Manchester City. Untuk poin terakhir, Mino mematok fee agen 39 juta euro atau sekitar 647 miliar rupiah. Ingat, komisi yang dimaksud baru dari satu pemain.
Tak heran jika ia masuk nominasi lima besar agen sepak bola terkaya di dunia di urutan ke empat. Di sisi lain meski dilabel sebagai agen haus komisi, kenyataan masih ada tiga Mino Raiola lain di atasnya. Hanya saja popularitas mereka tak sebeken agen besar bobot tersebut.
Kesuksesan dirinya dalam tawa-menawar klien ke beberapa klub top flight dunia dengan harga-harga super mewah membuktikan Mino Raiola bukan sembarang agen. Berita baiknya, ada keuntungan tak terhingga bagi klub yang memakai jasanya meski jengkel dengan harga yang hampir tak masuk akal.
Benar memang. Pada prinsipnya, semua barang tersedia bagi siapa pun yang sanggup membeli. Ingin bagus, bayar mahal.
Kata-kata mudah dijumpai saat kecelakaan pesawat tarif murah “low cost, low safety.” Mungkin Mino pernah juga mengatakan “low cost, low quality.” Sayangnya ia tak pernah menyetok barang murah.
Sekadar informasi tambahan, hampir semua kliennya jebolan imigran. Beberapa di antaranya berkulit gelap.
Seberapa banyaknya kontroversi yang berakhir hujatan, ia tak pernah ambil pusing. Mino selalu punya seribu satu alasan untuk banyak bicara di pentas sepak bola.
Seperti pernyataan yang pernah dibuatnya dalam sebuah kesempatan bahwa selalu ada orang yang suka dan benci pada kita. Masa bodoh. Tugas kita hanya mencintai orang yang layak dicintai.
Satu hal yang pasti, kontroversi dan cerdas adalah perpaduan sempurna untuk dibenci. Mino memiliki keduanya.
Terlepas dari apa pun, fakta bicara. Dunia sepak bola kehilangan sosok penuh talenta. Di akun Instagram, Facebook, Twitter, banjir ucapan duka cita atas kepergiannya. Tak sedikit warga net membagikan foto agen yang sering jadi buah bibir publik tersebut dalam unggahan cerita pribadi di berbagai akun sosial media dengan kata kunci “Rest in Peace.”
Sejatinya kontribusi mendapat pengakuan di saat orang telah pergi. Sisanya akan dikenang selamanya dalam memori.
Selamat jalan Mino Raiola. Dunia sepak bola berduka. Kontribusimu mengembangkan sepak bola dunia akan terus dikenang. Semoga keluarga serta para pemain yang pernah memakai jasamu ikhlas melepas kepergian sosok agen terbaik dalam sejarah sepak bola dunia.[]
* Yulia Erni, Pengurus PBSI Pidie periode 2019-2024. Hobi: Menonton sepak bola, main bulu tangkis, membaca, menulis berita. Alamat: Jalan Banda Aceh-Medan KM 121, Lampoih Saka, Pidie, Aceh.







