LHOKSEUMAWE – Sejumlah warga dari Komunitas Bedah Rumah Kaum Dhuafa “Al-Birru” berhasil membangun rumah sederhana untuk Abdus Salam, 55 tahun, atau Pak Salam, warga miskin, di Dusun Blang Rayek, Desa Uteun Bayi, Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe, beberapa hari lalu.
Komunitas “Al-Birru” kini mulai membangun rumah sederhana untuk Bahrensyah atau Nek Baren, 76 tahun, warga duafa di Dusun Sejahtera, Desa Uteun Bayi, Kamis, 15 Maret 2018.
Komunitas “Al-Birru” diketuai Ustaz Ikhwansyah, M.A., bersama Jalaluddin, S.K.M., M.Kes. (bendahara), dan Herman Ibrahim (koordinator lapangan) dibantu rekan-rekan mereka, membangun rumah warga miskin atau kaum duafa itu dengan dana hasil sumbangan berbagai kalangan. “Ada yang menyumbang uang sesuai kemampuan, ada juga yang membantu bahan bangunan seperti semen, seng, triplek, dan kayu,” kata Jalaluddin.
Jalaluddin menyebutkan, rumah sederhana untuk Pak Salam merupakan rumah kaum duafa kesembilan yang sudah dibangun oleh Komunitas “Al-Birru” sejak Januari 2018. Rumah dasar milik Pak Salam, kata dia, dinding terbuat dari kayu sudah lapuk, atap bocor, dan tergenang air saat musim hujan karena lantai rumah lebih rendah dari permukaan jalan.
“Pak Salam memiliki enam anak yang masih dalam pendidikan. Beliau merupakan buruh bangunan dan istrinya pencari tiram di Waduk Lhokseumawe. Rumah baru untuk Pak Salam berhasil kita bangun dengan anggaran Rp15.300.000 tipe 36,” ujar Jalaluddin.
Menurut Jalaluddin, saat penyerahan rumah untuk Pak Salam, Senin lalu, turut hadir Ketua Pemuda Uteun Bayi, Tgk. Ismuha, tokoh masyarakat Uteun Bayi, Dicky Saputra dan T. Anwar Haiva, serta sejumlah donator lainnya.
Jalaluddin menambahkan, pembangunan rumah sederhana untuk Nek Baren yang dikerjakan mulai hari ini diperkirakan membutuhkan biaya Rp15 juta lebih. Dana sudah terkumpul, kata dia, sementara ini sekitar Rp5 juta. Oleh karena itu, pihaknya berharap sumbangan berbagai kalangan untuk kebutuhan pembangunan rumah Nek Baren.
“Selama ini saya tinggal bersama cucu dari kakak saya,” kata Nek Baren.
Koordinator Lapangan Komunitas “Al-Birru”, Herman Ibrahim, mengajak berbagai kalangan untuk ikut memberikan kepedulian terhadap nasib kaum duafa di Lhokseumawe. Kaum duafa, kata Herman, membutuhkan tempat tinggal yang layak agar merasa nyaman saat beribadah. “Oleh karena itu, kita jangan lagi saling menyalahkan, jangan hanya cerita masalah kegelapan, tapi mari kita membakar satu satu lilin untuk penerang. Kita ambil teladan dari jati diri indatu kita, yang darahnya mengalir di tubuh kita. Mereka adalah penerang dan penolong bagi orang lain,” katanya.
“Bahkan, indatu kita dulu tanpa tambang emas, minyak dan gas bumi, tapi mereka mampu menyumbang pesawat untuk NKRI. Maka yakinlah selalu bahwa pengorbanan atau bantuan kita bersama kepada kaum duafa tidak akan sia-sia, karena dicatat oleh malaikat,” ujar Herman.[](idg)




