Karya: Taufik Sentana
Peminat prosa religi.

Kelak, saat menuju sirath sebagian manusia
Meminta cahaya. Dan cahaya itu hanya terbit
Dari tindakan iman saat di dunia.

Setiap amalan yang disandarkan padaNya
Akan menjadi cahaya: inilah rumus ilahi yang sedang
dijelajahi manusia modern dengan capaian teknologi digitalnya.

Sabar itu cahaya
Shalat itu cahaya
Setiap tetesan darah hewan Qurban
menjadi cahaya (sebagian menjelma malaikat).
Quran itu cahaya
Muhammad Saw itu cahaya
Bahkan Cahaya Allah Meliputi langit dan bumi.
Bayangkan kita dalam ketiadaan cahaya!:
Sesak-meraba
Menjamah segala tak tampak
Melintasi hitam-pekat.

Kita dianjurkan meminta cahaya
dan berupaya menjadi cahaya,
begitu dalam sabda Baginda.
Cahaya itu petunjukNya
Cahaya itu ilmu dan makrifat
Cahaya itu Nur
yang menjadi NamaNya.

Yang paling Atheispun membutuhkan cahaya
untuk keperluan hari hari, walau mereka bisa membuat energi buatan, mengelola angin dan gelombang.
Mereka butuh cahaya untuk melihat peristiwa semesta.
Mereka butuh cahaya saat di ruang bedah, rumah , dapur dan kantor kantor. Mereka menyangka cahaya itu
hal yang sederhana.

Siapapun butuh cahaya, walau Pemiliknya
tanpa Dianggap. Dia telah Melepaskan CahayaNya
dengan sifat RahmanNya. Hingga semua akan dihitung kembali dengan seksama.

Bersyukur kita yang menerima cahaya
Lahir dalam cahaya
Dan menempuh hidup dengan cahaya.

Semoga cahayaNya selalu Meliputi kita
Sampai ke dunia seberang yang abadi.[]