Kamis, Juli 25, 2024

Buka Rapimda KNPI Subulussalam,...

SUBULUSSALAM - Penjabat (Pj) Wali Kota Subulussalam, H. Azhari, S. Ag., M.Si mengatakan...

BI Lhokseumawe Gelar ToT...

LHOKSEUMAWE - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Lhokseumawe bersama Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kota...

PPK Sawang: Uang Operasional...

ACEH UTARA - Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Sawang di bawah Komisi Independen Pemilihan...

Cari HP di Bawah...

Mencari HP dengan harga terjangkau namun tetap memiliki performa yang handal memang bisa...
BerandaNewsSengatan Lebah dan...

Sengatan Lebah dan Mercusuar

Hari Minggu, tepat pada pukul lima belas lewat empat puluh lima menit, Aku, Guruku dan rakan-rakan Kemah Sastra Hamzah Fansuri memulai perjalanan menuju Menara Suar (Mercusuar) yang berada di kampung Meulingge Pulau Aceh, dengan menggunakan tiga motor, jumlah kami hanya enam orang. Satu motor untuk dua orang, dan itupun sangat mengkhawatirkan. Bersabab pada jalan yang kadan-kadang mendaki tinggi. Bukan pendakian biasa.

Acara Kemah Sastra Hamzah Fansuri ialah perdana di Pulau Aceh, dan kampung Seurapong adalah tempat kami bermalam dan menetap untuk beberapa hari. Tanggal 20 Februari 2016 bertepatan dengan hari Sabtu, hari pertama menuju Pulo Aceh, pukul dua lewat tujuh belas menit pada siang menjelang sore hari tersebut, boat penumpang Jasa Bunda itu mulai meninggalkan Kuala Aceh menuju laut lepas.

Semua barang bawaan telah dikemas rapi dan ditutup oleh terpal, apabila hujan turun barang-barang bawaan tersebut akan tejaga dari basah yang bersabab oleh air-air hujan itu. Dan begitulah untuk setiap hari-harinya. Penumpang di dalam boat dengan leluasa bisa melihat ke arah mana sahaja yang dikehendaki, oleh sabab tiada dinding di boat tersebut.

Setelah sepekan pulang dari acara Kemah Sastra yang dimulai dari tanggal 20-23 Februari lalu masih di tahun 2016, barulah Aku menulis dan dapat menyelesaikan ceritaku ini. Walau hanya beberapa kejadian sahaja yang tertulis, namun kerana hal itulah yang membuatku ingin menulis.

Walaupun sudah sepekan berlalu, namun masih sangat merasakan sengatan lebah di Pulo itu. Adalah menuju ke Menara Suar (Mercusuar) tujuan kami pada hari Minggu menjelang sore di kala waktu. Di tengah perjalan, terasa olehku motor yang kunaiki/kukendarai bersama pria berambut panjang itu jalannya sekarang oleng.

Rupanya ia (pria yang ada di belakangku) sudah disengat lebah, tepat di kuduknya. Motor itu masih sahaja kujalankan. Dan sesa’at kemudian, terasa di dadaku bagai tertusuk sembilu, “Beginikah sakitnya tertusuk sembilu?” Aku berguman di dalam hati sembari mencandai diriku sendiri.

Perih terasa menjalar keseluruh tubuh, kemudian dengan seketika kutepikan motor Mio Suol tersebut. “Bang, sayapun ikut disengat oleh lebah itu,” Aku memberitahu lelaki yang sudah duluan disengat dariku. Adalah kami (aku dan lelaki yang berambut panjang itu) satu motor berdua.

“Mari ke sini dan taruhlah getah pohon Rube’k ini,” Katanya. dan iapun mencabut daun-daun pohon obat itu, getah yang meleleh diambil dan diolesinya pada tempat di mana ianya disengat begitu juga dengan diriku. Dan lebah-lebah itu masih mengintai kami, “Keadaan belum aman ini bang,” Sambil kunyalakan lagi motor itu dan menjauh dari kawanan lebah tersebut.

Ia tersenyum entah mendengar ucapanku tadi, dan di sa’at pergi untuk menjauh dari lebah-lebah tersebut. Aku merasakan sengatan perih itu sekali lagi terasa di dada kananku, dua kali disengat lebah untuk hari ini. Badanku terasa panas dingin (Demam).

“Bang Thayeb, saya sudah disengat untuk kedua kalinya,” Motorpun kupacu dengan sangat hati-hati, bersabab oleh tikungan turun/mendaki, dan masih dikejar lebah, badanpun sudah rada demam tinggi. Namun tetap harus hati-hati.

Setelah Thayeb Loh Angen memastikan bahawa keadaan sudah benar-benar aman (aman dari lebah). Untuk kali yang kedua kami berhenti dan terus menyibak baju untuk melihat bagian dadaku yang disengat lebah itu. Kami pun mengoles lagi getah pohon Rube’k tersebut.

“Getah ini sangat bagus, bisa mengeluarkan duri yang sudah masuk ke dalam tubuh. Hanya dengan dioles sahaja di tempat duri itu berada,” Ia pun kembali mengolesi getah itu pada tempat disengat lebah begitu juga dengan diriku. Tak terkira lagi, entah berapakali sudah kuolesi getah itu di tempat lebah menyengatku.

“Rupanya bukan madu yang aku dapat, akan tetapi malah sebaliknya,” Akupun berguman di dalam hati sembari menghibur diri dari rasa perih itu. Kami pun beristirahat sejenak di pinggir jalan utama itu. Dan disusul oleh rakan-rakan lain, “Sungguh mereka adalah orang-orang yang beruntung,” Gumanku sendiri sambil sebuah senyuman terlukis di mulutku.

Walaupun sedang merasakan perih yang sudah sampai membuat badanku panas ini, namun Aku tetap masih senyam-senyum sendiri, entah pada hal apa yang membuat senyumku itu. Akupun heran pada diriku. Dan rakan-rakan pun mulai memandangku aneh. “Saya tiada habis pikir, sempat pula disengat lebah hari ini,” kata-kataku itu membuat merekapun ikut tersenyum.

“Peristiwa ini membuat cerita yang akan kita tulis nantinya bertambah bumbu/menarik.” Dengan senyuman pula Thayeb Loh Angen guru sekaligus sudah seperti abang kandung kami itu berkata-kata. Kemudian bersama-sama larut dalam tawa. Setelah beberapa menit dari beristirahat itu barulah beranjak pergi lagi.

“Sampai juga di Menara Suar (Mercusuar) ini rupanya,” Aku berguman sendiri dan rasa panas dari sengatan lebah tadi masih sangat terasa di tubuhku. Bahpun rasa lelah yang telah menyelimuti diri sungguh tiada terasa lagi, hanya perih sengatan lebah yang sangat terasa menjalar di diri.

Setelah puas memanjakan hasrat/penasaran di Menara Suar itu, kamipun beranjak lagi ke pelabuhan belanda yang jauhnya hanya dua ratus meter lagi dari tempat menara suar (mercusuar) itu berada. Dan pada setiap tempat yang kami jejaki, tiadalah lupa mengabadikan gambar sebagai kenang-kenangan diri.

Jam menunjukkan pukul delapan belas lewat empat puluh tujuh menit, setelah aku melirik jam yang ada di tangan kiriku, hampir tiba waktu magrib. Kamipun beranjak pulang menuju kampung Seurapong lagi. Makan malam dan setelah itu seperti biasa, berbaur bersama masyarakat di kedai tepi laut kampung Seurapong itu.

“That na teuh keujadian bunoe uroe (ada-ada sahaja kejadian yang terjadi di hari tadi,” Aku berguman sendiri di dalam hati, dan terus menyeruput kopi yang sudah terhidang di atas meja kedai kopi bang Marhaban. Rakan-rakan lain juga terlihat sibuk dengan ceritanya masing-masing.

Acara Kemah Sastra Hamzah Fansuri perdana itu sepekan sudah berlalu (20-23 Februari 2016) dan sekarang Aku sudah berada di Banda Aceh, tepatnya di kampung Mulia. Di tempat kos (kosan) Musrijal dan rakan-rakannya kuselesaikan cerita yang sudah sepekan ini berlalu. “Seperti kemarin sahaja akan kenangan itu berlaku,” Lagi-lagi Aku membatin sendiri.[]

Laporan: Syukri Isa Bluka Teubai, anggota ASHaF (Alumnus Sekolah Hamzah Fansuri), mengikuti acara Kemah Sastra Hamzah Fansuri, 20-23 Februari 2016, Pulo Aceh, Aceh Besar.

Baca juga: