Pemerintah telah memberi tekanan bagi pentingnya memupuk dan mengembangkan sikap kewirausahaan. Hal itu sejalan dengan pendekatan saintifik yang mesti diaplikasikan dalam pembelajaran di kelas.
Kedua poin di atas, sikap kewirausahaan dan pendekatan sains merupakan pra syarat dalam era industri yang semakin mengglobal. Diantara titik berat perhatian kita di era ini adalah kesiapan SDM yang sejalan dengan modernisasi dan globalisasi informasi. Maka sudah tentu lembaga pendidikan formal (termasuk dunia kampus) menjadi “pusat karantina ” SDM yang dimaksud.
Lembaga sekolah dengan beban kurikulum yang standar dan program programnya yang rutin, tidak bisa lagi hanya mengandalkan prosedur lama dan kaku, apalagi bila hanya mengedepankan daya serap kognitif semata dengan pengukuran normatif.
Di antara skill yang mungkin tampak asing bagi anak sekolah zaman now adalah seni menjual. Walaupun secara taktis sebagian kecil siswa kelas menengah memiliki sedikit program yang mengembangkan keterampilan ini, seperti pengadaan bazar dan market day. Namun kata “seni menjual” ini tetaplah asing.
Seni menjual tidak hanya berfokus pada produksi dan produk. Tapi mesti juga menyentuh ranah metakognitif dan spiritualitas serta dampaknya bagi lingkungan sosial.
Bila dikaitkan dengan perkembangan industri dan pesatnya teknologi informasi, maka dasar utama seni menjual adalah pembangunan trust (kepercayaan, kejujuran integritas), kemanapun kita pergi dalam sesi training matketing, pastilah menyentuh ranah trust tersebut. Jadi sangat mendesak bagi lembaga sekolah untuk dapat membina sikap trust ke dalam nilai interaksi edukatif keseharian bersama sistem di sekolah.
Disamping itu, pengolahan gagasan kreatif dan metoda penyampaian gagasan tersebut juga bagian yang terkait dalam seni menjual. Karena kita sedang pada tahap perkembangan eko-informasi, dimana gagasan menjadi bagian penting dalam wujud informasi dan perkembangan teknologi. Dalam hal ini, masyarakat sekolah mestilah menjadi masyarakat pembelajar dan masyarakat penggagas, sehingga setidaknya para siswa terbiasa dengan metoda berfikir terbuka, kreatif dan reflektif yang tetap sejalan dengan nilai spirit Islam.
Kealpaan kita dalam hal seni menjual ini setidaknya berdampak pada tingkat konsumsi kita yang tinggi dan tak terkendali. Dalam dunia kerja, kelak para siswa kita hanya sampai pada level menjadi karyawan atau pegawai tanpa pernah berani menggahas ide bagi kemajuan personal dan sosialnya. Dan ini adalah kehilangan terbesar bagi kemajuan masyarakat kita.
Taufik Sentana
Tim Pengembang Program di SMPIT Teuku Umar Meulaboh. Berkhidmat di pendidikan Islam sejak 1996. Kini fokus pada layanan pengembangan SDM lewat seminar dan pelatihan bersama Albanna Internasional College.



