BANDA ACEH — Seribu batang pohon bakau ditanam di kawasan Gampong Alue Naga, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, Minggu, 14 Januari 2017.
Penanaman ini melibatkan sekitar 360 orang yang terdiri dari berbagai kalangan seperti kepolisian, TNI, sejumlah komunitas, anak-anak, pegawai pemerintahan, dan akademisi.
Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Air Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Krueng Aceh Ahmad Sofyan mengatakan, aksi tanam ini merupakan kerjasama Jefri Nichol Fans (JNF) dengan BPDASHL Krueng Aceh. Turut didukung Museum Tsunami Aceh, Pemerintah Aceh, Koalisi Lestari Hutanku, UIN Ar-Raniry, dan Universitas Syiah Kuala.
Ini merupakan bentuk implementasi program penanaman 10 ribu pohon bakau di Indonesia. Banda Aceh terpilih sebagai salah satu lokasi penanamannya.
“Kegiatan ini tidak berhenti aja di sini, kami akan terus melakukan penanaman, seperti kegiatan sebelumnya yang dibantu komunitas Museum Tsunami Aceh,” ujarnya.
Ia menyatakan, pada 2018 akan dilakukan penanaman bakau hingga 14 ribu batang. Angka 14 disesuaikan dengan peringatan tsunami yang ke-14 nantinya. BPDASHL memiliki satu juta bibit tanaman yang terdiri dari bakau, tanaman hutan dan produktif. Masyarakat dipersilakan memintanya tanpa perlu membayar.
Rektor UIN Ar-Raniry Prof. Farid Wajdi Ibrahim yang turut hadir dalam aksi peduli lingkungan ini sangat mendukung kegiatan tersebut karena dinilai sangat bermanfaat bagi kelestarian alam. “Kami dari perguruan tinggi sangat bangga ada kegiatan-kegiatan seperti ini,” katanya.
Ia menyerukan kepada masyarakat untuk menanam minimal 25 pohon seumur hidup.
Hal senada disampaikan Koordinator Museum Tsunami Aceh Almuniza Kamal. Aksi tanam bakau ini menurutnya sekaligus media pembelajaran masyarakat betapa pentingnya menanam pohon. Bagi anak-anak, mereka sudah bisa belajar mencintai alam sejak dini. Ia mengharapkan masyarakat lebih mencintai alam dengan tidak menebang pohon secara ilegal. Apalagi di kawasan pegunungan yang akan berdampak terjadinya banjir bandang dan longsor yang biasa terjadi di musim hujan.
“Musibah-musibah yang terjadi seperti longsor dan banjir bandang adalah ulah manusia yang menebang pohon,” ujarnya.
Sementara itu, Geuchik Alue Naga, Zulkifli Ismail, sangat berterima kasih dengan adanya kegiatan ini. Kehadiran hutan bakau di sungai kawasan Alue Naga sangat berarti bagi para pencari tiram maupun kepiting. Namun, akibat bencana tsunami, banyak bakau di daerah itu menghilang.
“Akibat tidak banyak lagi mangrove, masyarakat di sini sudah sulit mencari kepiting untuk dijual mencari rezeki,” ujarnya.
Ia menuturkan, kondisi sungai di Alue Naga semakin dangkal dan sempit. Harapannya, melalui penanaman bakau ini, masalah tersebut dapat dicegah. Penyempitan sungai sama dengan penyempitan rumah bagi tiram. Orang yang paling merasakan dampak negatifnya adalah para penjual tiram. Tiram merupakan salah satu sumber pendapatan ekonomi di kawasan pesisir itu.
Sampai sekarang, masyarakat mulai mengembangkan bisnis tiram dengan cara mengolahnya menjadi kerupuk. Tujuannya untuk meningkatkan nilai jual. Hasil olahan mereka sudah dipasarkan ke beberapa kabupaten di Aceh.[]





