Senin, Juni 24, 2024

Dosen UBBG Lulus Seleksi...

BANDA ACEH - Tidak hanya mahasiswa, dosen UBBG juga berprestasi. Adakah Dr. Zahraini,...

34 Tim Futsal Berlaga...

SIGLI – Sebanyak 34 tim se-Aceh berlaga untuk memperebutkan gelar juara Piala Ketua...

All New Honda BeAT...

BANDA ACEH - Sehubungan dengan peluncuran All New Honda BeAT series terbaru oleh...

Kapolri Luncurkan Digitalisasi Perizinan...

JAKARTA - Kapolri Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo meluncurkan sistem online single...
BerandaNewsSering Konsumsi Makanan...

Sering Konsumsi Makanan yang Digoreng Tingkatkan Risiko Kematian Dini

Tak dapat dimungkiri bahwa gorengan merupakan salah satu makanan yang tidak sehat. Bahkan, menurut penelitian terbaru yang dipublikasikan pada jurnal BMJ,  gorengan sangat berbahaya bagi kesehatan kita dan meningkatkan risiko kematian. 

“Secara umum, kami menemukan bahwa konsumsi gorengan dikaitkan dengan kematian secara keseluruhan,” ungkap Dr Wei Bao, co-author studi sekaligus asisten profesor epidemiologi dari University of Iowa, dikutip dari Kompas.com.

Para peneliti mendapatkan hasil ini setelah melakukan studi longitudinal selama 20 tahun. Mereka mengamati 107.000 perempuan berusia 50 hingga 79 tahun. Awalnya, para partisipan diminta mengisi sebuah kuesioner terperinci tentang kebiasaan pola makan pada 1990-an. Kesehatan mereka terus diamati oleh peneliti hingga tahun 2017. Dalam rentang waktu 27 tahun, ada lebih dari 31.500 partisipan yang meninggal dunia.

Secara keseluruhan, hasilnya menunjukkan bahwa partisipan yang setidaknya mengonsumsi satu porsi makanan yang digoreng per harinya, memiliki risiko 8% lebih tinggi terkait kematian dini. Para penyuka gorengan itu juga memiliki risiko penyakit kardiovaskular yang lebih tinggi.

Gorengan yang paling berkaitan dengan kematian dini dalam penelitian tersebut adalah ayam goreng dan ikan goreng dibanding makanan ringan seperti kentang goreng atau keripik.

Menurut Bao, itu mungkin berhubungan dengan cara makanan disiapkan. Misalnya, banyak restoran menggunakan kembali minyak yang sudah dipakai. Padahal, menggunakan minyak jelantah bisa meningkatkan produk sampingan berbahaya yang ditransfer ke makanan. Apalagi, daging cenderung digoreng lebih lama dibanding makanan ringan.

Bao mengatakan, hasil penelitian ini memiliki pengecualian untuk orang-orang Spanyol. Dia menyebut, hal ini mungkin karena lebih banyak orang Spanyol menyiapkan makanan mereka di rumah. Selain itu, orang Spanyol menggunakan minyak goreng yang lebih sehat seperti minyak zaitun. 

Bao menyadari bahwa penelitiannya ini memiliki keterbatasan. Salah satunya hanya mengamati kebiasaan diet atau makan para partispan sekali saja. Dengan kata lain, ada kemungkinan mereka mungkin mengubah pola makannya dari waktu ke waktu.

Meski begitu, ia yakin temuan ini cukup kuat dan mungkin berlaku pada populasi selain wanita dan usia yang lebih tua. 

Satu hal lagi dari studi ini, konsumsi gorengan tampaknya tidak sesuai dengan risiko kematian akibat kanker. Padahal, beberapa penelitian sebelumnya sering menghubungkan konsumsi gorengan dengan kanker.

“Kami tahu pola makan penting untuk pencegahan kanker atau penyintas kanker, tetapi tidak semua komponen makanan (tampaknya sama penting),” pungkas Bao.

Penulis: Gita Laras Widyaningrum.[]Sumber: nationalgeographic.grid.id

Baca juga: