“Pakai helm, nak, takut ada polisi di depan,” perintah sang ibu sambil menyerahkan helm. 

“Pakailah sabuk pengaman, ini musim razia,” minta si sopir kepada temannya di samping.

Sahabat!!!

Kalimat-kalimat seperti di atas sering kita dengar. Bahkan, mungkin kita salah satu pelakunya. Pertanyaannya, apakah pernyataan atau perintah itu seharusnya?

Pernyataan-pernyataan itu jelas sesat. Sebab, helm dan sabuk bukan untuk tidak ditilang polisi. Ianya adalah alat keselamatan di jalan.

Begitulah kesesatan pada pola pikir kita. Kemudian menjadi kelaziman. Si pemberi perintah dan si penerima manjadi mahfum saja. Sebuah kesesatan yang seperti menjadi lazim.

Sesat pikir menjerumuskan kita pada banyak hal salah. Model pola pikir ini bukan hanya merusak pada struktur pikir pribadi, ia kemudian malah merusak tatanan kehidupan.

Misalnya, rusaknya fasilitas umum. Lebih karena sesat pikir bahwa itu bukan milik kita pribadi. Tidak merugikan pribadi kita. Padahal, esensinya fasilitas umum itu milik bersama termasuk kita.

Membuang sampah sembarangan, menebangi pohon, membuang makanan dan membuang waktu untuk hal yang tidak ada manfaat. Semua itu dimulai dari bentuk pola pikir.

Kita dengan mudah dan suka sesuatu makanan yang manis. Walau secara kesehatan tidak baik bila berlebih. Jadi, konstruksi hidup, kita tentukan oleh pola pikir kita.

Begitu juga hubungan dengan tuhan. Supaya menjadi taat kita eksploitasi neraka. Seolah-olah tuhan pendendam dan kejam. Padahal, filosofinya. Keburukan atau perilaku melanggar norma agama. Di duniapun akan merugikan kita dan orang lain.

Hal hal positif seperti diatur agama. Sebenarnya manfaat positif terbesar milik kita. Bukan untuk menyenangkan tuhan. Sehingga tidak perlu kamuflase. Misal menunjukkan kita amat taat. Tapi kita juga menyembunyikan perilaku negatif.[]