BerandaInspirasiBudayaSeulawah, Antologi Klasik dan Kontemporer Sastra Aceh

Seulawah, Antologi Klasik dan Kontemporer Sastra Aceh

Populer

Antologi Seulawah merupakan antologi sastra terbaik yang pernah dibuat di Aceh. Membacanya kita menemukan karya-karya berkualitas dari para sastrawan. Bukan hanya sastrawan Aceh semata, tapi juga nasional dan internasional. Antologi ini bisa dikatakan sebagai permatanya sastra Aceh.

Antologi setebal 730 halaman ini diterbitkan pada tahun 1995 oleh Yayasan Nusantara. Ada tiga sastrawan/penyair yang menjadi editor antologi ini, mereka adalah Taufiq Ismail, Hasyim KS dan LK Ara. Ketiganya juga menyumbang karya terbaik mereka dalam antologi tersebut.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia masa itu, Prof Dr Ing Wardiman Djojonegoro menyebut antologi ini sebagai karya yang membanggakan dan patut dihargai. Antologi ini juga mampu menjawab pertanyaan tentang bagaimana sastra klasik Aceh masa lalu yang disandingkan dalam satu buku dengan karya-karya mutakhir sastrawan kontemporer.

Sementara Gubernur Aceh Prof Dr Syamsuddin Mahmud menilai antologi Seulawah sebagai aset yang mampu meretasi berbagai pemikiran zaman lama dan zaman baru, sehingga perjalanan sastra Aceh bisa dilihat lebih jelas. Dalam pandangannya, antologi Seulawah merupakan buku yang pertama dan terlengkap tentang sastra Aceh.

Selain berisi karya terbaik sastrawan Aceh, antologi Seulawah juga diisi oleh tiga sastrawan Malaysia, seperti novelis Abdullah Hussain pejuang revolusi 1945 yang paling produktif dalam berkarya. Kemudian Dr Siti Zainon Ismail yang mengisi antologi Seulawah dengan empat puisi dan satu esai.

Dari dalam negeri juga ada Taufiq Ismail dengan puisi panjangnya, Solo Slamed Sukirnanto dengan puisi perjalanannya, Sori Siregar dan Hamsad Rangkuti dengan cerpen-cerpen menariknya, dan esais Abdul Hadi MW dari Madura dengan tulisannya tentang Hamzah Fansuri.

Bagian awal antologi Seulawah dimulai dengan khazanah lama, yang berisi karya pelopor sastra  Melayu, Hamzah Fansuri, ulama tasauf Aceh pada abad 17 masehi. Ada tiga karyanya dalam antologi ini, Syair Perahu, Burung Pingai, dan Bismillar Rahman Rahim.

Khazanah lama juga diisi dengan Kitab Syarah Ruba’i Hamzah Fansuri yang ditulis oleh muridnya, Syeik Syamsuddin Sumatrani. Ada juda Syair Ma’rifat karya  Mufti Kerajaan Aceh, Syeikh Abdul Rauf As Singkili, serta nukilan Hikayat Prang Sabi karya ulama Aceh Tgk Syik Pante Kulu. Hikayat Prang Sabi ini merupakan karya sastra paling fenomenal yang mampu membangkitkan semangat juang rayat Aceh berperang melawan penjajah Belanda. Siapa saja yang membacanya ditangkap, dan naskah hikayat ini dibakar di mana saja ditemukan.

Bagian selanjutnya antologi Seulawah diisi dengan karya-karya sastrawan kontemporer dalam khazanah baru. Dimulai dari tujuh puisi Prof Ali Hasjmi, ulama pejuang kemerdekaan yang menjadi Gubernur Aceh. Ia juga dikenal sebagai sastrawan dengan banyak nama pena seperti Alhariri, Asmara Hakiki dan Aria Hadiningsum. Salah satu puisinya dalam antologi ini adalah puisi yang ditulis untuk Presiden Soekarno dengan judul Akoe Serdadoemoe.

Setelah Ali Hasymi ada puluhan nama penyair Aceh dan nasional, seperti Maskirbi, M Nur Gani Asyik, Hasbi Burman, AA Manggeng, Mustafa Ismail, Ahmad Rivai Nasution, Noerdin F Joes, Nurdin AR, Rahmad Sanjaya, Rosni Idham, Talsya, Tien Soemarni Rachman, To’et, Ucok Kelana, Yun Casalona, serta puluhan penyair lainnya.

Bagian selanjutnya antologi Seulawah diisi dengan karya empat penyair tamu. Mereka adalah Abdullah Husain dan Siti Zainon Ismal dari Malaysia, Slamet Sukirnanto, dan Taufiq Ismail. Nama terakhir juga salah satu dari tiga editor antologi ini.

Sementara di bagian cerpen diisi oleh beberapa cerpenis, diantaranya: Ayi Jufrizal (Tambo), Amri A Jalil (Sebatas Persahabatan), Faridha (Makam), Hasyim KS (Di Mulut Lorong dan Lewat Meulaboh), Maskirbi (Sang Profesor), Musmarwan Abdullah (Mentari yang Hilang).

Bagian selanjutnya berisi karya penulis tamu. Mereka adalah Abdulah Husain (Peristiwa Kemerdekaan di Aceh), Hamsad Rangkuti (Pedagang Kacang dari Beureunuen), dan Sori Siregar (Dendam).

Bagian akhir antologi diisi dengan kumpulan esai. Membacanya kita seakan mendapat kepingan-kepingan dari gambaran perkembangan sastra Aceh, Melayu dan Indonesia di masa lalu dan masa kontemporer. Selain itu, Antologi Seulawah ditutup dengan dua naskah drama karya Junaidi Bantasyam (Warisan) dan Maskirbi (Poma-Luka Ibu Kita).[]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita terkait

Berita lainya