Oleh: Taufik Sentana*

Dengan ilmu adam menjadi mulia di hadapan malaikat. Dari mengenal benda hingga makrifat Sumber Wujud.

Ilmu bagai pancaran keilahian yang memercik di gelapnya kejahilan. Untuk tiba di gerbang pemahaman, pengenalan dan pengamalan.

Dengan ilmu, iman tumbuh menjulang-menjuntai ke ketinggian, berbuah taat
dan ranum-manis pengabdian.

Ilmu melentera nafsu yang gelap, memupuk jiwa yang rindu pada Rabb. Ilmu meringkas tanya bagi segala jawab
dalam rangkaian perjalanan yang lembab. Bagi musafir, ilmu adalah bekal, perlengkapan dan kewaspadaan.

Ilmu tanpa pengamalan adalah cahaya yang dicampakkan. Setitik ilmu yang terpatri dalam hati dan tindakan  bagai bintang berpijar menyinari ke ujung jalan.

Pada akal ilmu disemai dan diperam. Batasannya yang rapuh menjadikan akal terkait wahyu, ialah Sinar Utama untuk membajak akal dalam pergumulan dan pencarian. Para nabi telah memimpin jalan ilmu dan wahyu guna menyelaraskan dunia untuk Cita Abadi.

Mungkin banyak ilmu yang sampai pada pengertian dan menembus dinding kebodohan fisikal. Tapi manisnya ilmu hanya bagi si pencari yang merangkai AsmaNya di setiap helai kejadian.[]

*Praktisi pendidikan Islam.