Sosok pemuda sangat penting dalam kehidupan masyarakat, termasuk untuk menghidupkan dakwah. Dalam bahasa Arab, pemuda dikenal dengan nama fata. Sedangkan kata futuwwah merupakan bahasa Arab yang berasal dari fata.
Namun, secara termimologinya fata itu mempunyai pengertian sebagai seorang anak muda yang tampan dan gagah berani. Futuwwah dalam etimologinya juga dapat diartikan jalan hidup pejuang spiritual (spiritual warriorship). Kesatriaan spiritual.
Penjelasan futuwah itu berkaitan dengan kepemudaan dalam interaksinya dengan kehidupan spiritual yang bersifat permanen, bukan hanya terpaut pada kepemudaan bersifat jasmani. Al-quranul karim juga menyinggung sosok al-fata (pemuda). Di antaranya dinukilkan dalam surah Al-Kafhi ayat 10 berbunyi, (Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)” (QS. Al-kahfi: 10).
Dalam kajian tafsir, salah satunya sebagaimana disebutkan penafsiran ayat di atas tentang esensi pemuda dipertegas oleh riwayat Sulaiman bin Jafar, yang menyebutkan, Imam Jafar bin Muhammad berkata: Wahai Sulaiman, siapakah pemuda itu? Kemudian aku menjawab: … pemuda bagi kami adalah orang yang masih muda. Lantas beliau berujar kepadaku: Seperti yang engkau ketahui bahwa Ashabul Kahfi semuanya adalah orang-orang tua, akan tetapi Allah SWT menyebut mereka sebagai pemuda karena keimanan mereka. Wahai Sulaiman: Barangsiapa beriman kepada Allah dan bertakwa maka dialah pemuda. Pernah dalam kesempatan yang lain Imam Jafar Ash-Shiddiq menyebutkan: Pemuda itu adalah seorang mukmin.
Berdasarkan paparan di atas bahwa esensi pemuda itu terletak pada kekuatan keimanan dan ketakwaan kepada sang khalik. Seseorang yang berumur masih muda, tetapi tingkah laku dan akhlaknya tidak mencerminkan seperti yang digambarkan di atas, hakikatnya dia bukanlah al-fata. Intinya, al-fata bukan standarisasi pada umur, tetapi jati diri dan spritualisme yang dimiliki seseorang.
Dikisahkan dalam surah Ambia ayat 60 tentang keberanian sosok al-fata bernama Ibrahim dalam menghancurkan berhala yang dijadikan sebagai sesembahan pada waktu itu. Ayat tersebut berbunyi, “Mereka berkata: Kami telah mendengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim (QS. Al-Ambiya: 60).
Syekh Ibnu Kasir dalam tafsirnya Ibnu Kasir menyebutkan sebuah riwayat diceritakan Ibu Hatim bahwa Ibnu Abbas mengatakan, tidak sesekali Allah mengutuskan seorang nabi melainkan masih berusia muda dan tidaklah seseorang dianugerahi ilmu melainkan dia selagi masih muda. Setelah itu, Ibnu Abbas membacakan ayat di atas.
Spesifiknya, kata fata itu di dalam Alquran baik dalam surah Al-Kahfi maupun Al-Ambiya diilustrasikan seorang pemuda yang berakhalak mulia.
Namun, menariknya dalam mengambarkan seorang pemuda yang berakhlak tercela, Alquran melukiskan dengan kata al-ghulam. Inipun terdapat juga dalam surah yang sama Al-Kahfi ayat 74, 80, ketika dikisahkan pengembaraan Nabi Musa bersama dengan Nabi Khaidir yang menceritakan seorang anak muda dibunuh Nabi Khidir karena dalam pandangan beliau anak tersebut berperangai buruk dan jika dibiarkan dapat menjerumus kedua orang tuanya ke dalam kesesatan dan kekafiran.
Sementara itu dalam dunia tasawuf dan sufi futuwwah itu diinterpretasikan sebagai norma tingkah laku dan akhlakul karimah yang terpuji dalam meneladani para rasul dan nabi, sahabat, salafatus salih dan khalaf serta para waliyullah dan ulama sebagai warisatul ambiya.
Salah seorang murid Syekh Abdullah al-Kharqani Al-Hambali yang mengarang kitab Manazil As-Sairin sebuah kitab berisi pendakian spiritual hasil karya Syekh Ismail Abdullah al-Hawari, beliau berkata, “Inti futuwwah artinya engkau tidak melihat kelebihan pada dirimu dan engkau tidak merasa memiliki hak atas manusia”.
Jelas dari penjelasan di atas setiap orang yang meneladani jalan ini juga disebut al-fata yang secara harfiah (bahasa) bermakna pemuda yang tampan (budi pekertinya) dan gagah.[]




