Kita batasi kata “anak” dalam rentang usia menjelang baligh. Sebab pada masa itu, si anak akan menjadi pribadi yang lebih otonom dengan tanggung jawab yang berbeda. Walaupun demikian aspek yang memengaruhinya tetap berdampak pada perkembangan hidup dan pandangannya, artinya si individu akan selalu dalam proses dan pencarian dan
 penemuan dirinya yang sejati.

Untuk itu, memperhatikan masa usia menjelang baligh sangatlah penting dan memberikan dasar yang baik di kemudian hari.

Secara fitrawi, si anak membawa sifat baik dan buruk. Dalam psikologi lebih dikenal dengan keunggulan dan kelemahan. Sifat sifat itu ada yang terus melekat dan ada pula yang datang kemudian lewat pengertian dan kebiasaan. Inilah fase tarik-menarik antara baik dan buruk, antara kegembiraan dan hura hura, antara keunggulan diri dan kelemahan.

Maka, latihan kebiasaan, pengajaran, teladan dan pendidikan akan memberikan warna pada sifat sifat di atas hingga menjadi karakter pada diri anak. 

Dalam poin ini juga berlaku hukum dominasi lingkungan dan pergaulan. Sedang kita tidak mungkin menjauhkan si anak dari lingkungan dan pergaulannya. Tapi kita bisa membantunya dan menuntunnya (kadang dengan paksa dan kompensasi) agar selalu dapat tegak dalam fitrah kebaikan, kebenaran dan nilai nilai yang mulia. Sehingga si anak selalu dapat belajar untuk menundukkan sifat buruknya dan melestarikan kebaikan.[]

Taufik Sentana
Praktisi pendidikan Islam
Sedang menyusun Buku Hijrah Pendidikan.