“Aku sudah tidak bahagia, istriku sulit menyesuaikan diri, bawaannya cemburuan, kami ribut terus,” curhat seorang teman.

Dek, aku hancur kali sekarang, perilaku suamiku makin tua makin menjadi-jadi. Kakak kayak hidup di neraka,” keluh seorang kerabat jauh di lain kesempatan.

“Bercerai sajalah, buat apa bertahan bila sudah tidak nyaman, ngapain menyiksa diri terus hidup dalam suasana yang menyusahkan,” saran saya kepada mereka.

“Enggak mungkin kami cerai, kasihan anak-anak. Saya takut anak-anak jadi broken home dan rusak masa depan mereka,” begitu kira-kira jawaban mereka.

Sahabat!!!

Ketika sebuah suasana yang rumit, dan kamu tidak bisa keluar darinya. Tapi juga tidak bisa diselesaikan dengan happy ending, maka maintenance-lah situasi itu.

Jangan berkutat dalam situasi tidak bahagia itu. Caranya, lupakan. Dan terimalah situasi itu sebagai sebuah kenyataan. Semisal fisik, kamu kehilangan tangan karena kecelakaan. Maka kamu harus makan pakai kaki. Mengganti fungsi tangan dengan kaki untuk berbagai aktivitas.

Kamu tak perlu menyesali tak lagi bisa memeluk. Atau tak bisa pegang raket badminton. Yang penting tanpa tangan kamu bisa menyiasati agar aktivitas hidupmu terus berlangsung. Walau mungkin banyak hal harus kamu batasi.

Kasus di atas, misalnya. Pilihan mereka bertahan demi anak. Maka fokuslah mendidik anak. Semua hal-hal tidak menyenangkan terima saja sebagai kelaziman. Jangan pikirkan untuk membuat situasi itu happy versi kamu.

Sebab bila kita terus mengeluh dan merasa sakit. Maka tujuan pokok demi anak juga terganggu. Kamu akan benar-benar di situasi neraka. Pilihan kontradiktif yang menyiksa.

Hidup takkan pernah sempurna. Ketidakbahagian atau sebaliknya lahir dari pola pikir kita. Jangan menyiksa diri untuk sebuah situasi yang tidak mampu kamu mengubahnya. Tapi berbahagia dengan fokus pada tujuan. Kesempurnaan hanya milik tuhan.[]