JAKARTA – Isu Kota Palu akan tenggelam setelah gempa bumi dengan Magnito 7,4 Skala Richter mengguncang daerah itu, Jumat (28/9) lalu, menyebar dan menebar kecemasan bagi masyarakat. Tak pelak, kini banyak warga yang berbondong-bondong meninggalkan Kota Palu dan sekitarnya.
Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI (Kementerian ESDM), Rudy Suhendar, meminta agar masyarakat tidak termakan isu tersebut. Karena menurut analisa dia, lapisan pasir di bawah tanah yang menyebabkan likuifaksi sudah berkurang banyak.
Sehingga kalaupun kembali terjadi fenomena likuifaksi, dia memprediksi energi yang ditimbulkan tidak sebesar ketika mendapat tekanan dari patahan Palu Koro, penyebab gempa beberapa hari lalu.
“Kalau pun keluar itu paling beberapa centimeter, yang umumnya tidak akan terjadi sebesar pas terjadi gempa kemarin. karena harus ada pengocoknya dan lagi kan sudah keluar sekian kubik mungkin, ya, bubur (lapisan pasir) itu sudah keluar banyak,” kata Rudy dalam konferensi pers terkait Peta Kawasan Bencana Geologi dan Gempa Bumi di Sulawesi Tengah, di kantor Kementerian ESDM Jakarta, Rabu (3/10).
Menurut dia, masyarakat tidak perlu merasa cemas dan takut yang berlebihan menanggapi isu tersebut. Yang paling penting, kata dia, masyarakat harus selalu mawas diri dan waspada.
“Intinya kalau pun ada kejadian (likuifaksi) tidak sebesar itu. Yang penting tetap waspada pada masyarakat,” kata dia.
Rudy mengakui, hingga saat ini pemetaan terkait adanya potensi likuifaksi di Indonesia belum dilakukan secara menyeluruh. Keterbatasan alat dan tim disinyalir menjadi salah satu penyebabnya. Kendati begitu, kota-kota besar dan daerah penting menurut dia telah menjadi salah satu prioritas.
“Beberapa daerah ada (pemetaan likuifaksi). Tapi banyaknya (daerah) yang pernah terjadi (gempa), ya untuk mengantisipasi,” ujar dia.
Terkait fenomena likuifaksi, Geolog dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Eko Yulianto, menyebut hampir semua kota besar di Indonesia memiliki kerawanan terjadi likuifaksi. Namun kekuatan atau parahnya likuifaksi bergantung pada pasir lepas kaya air, yang berada di bawah tanah.
“Fenomena likuifaksi biasa terjadi di daerah pantai, sungai yang dekat gunung merapi aktif dan sungai tanpa berdekatan gunung merapi. Dan seperti kita ketahui kota-kota besar atau sedang di Indonesia dekat dengan pantai, jadi kerawanan itu ada,” kata Eko.
Reporter: Gumanti Awaliyah.[] Sumber: republika.co.id




