BANDA ACEH – Anggota Komisi III DPR Aceh kemarin mendatangi Kantor PT PLN (Persero) Wilayah Aceh untuk mengetahui kendala yang dialami badan usaha milik negara tersebut dalam memenuhi suplai arus listrik di Aceh, Rabu, 30 Maret 2016. Dalam pertemuan tersebut, GM PLN Aceh, Bob Syahril, menyebutkan sebenarnya Aceh surplus listrik dengan adanya PLTU Nagan Raya dan PLTMG Arun. Jikapun terjadi pemadaman, itu disebabkan gangguan seperti ranting pohon di sekitar kabel, tersangkut layang-layang, warga yang membakar sampah di bawah jaringan dan pohon tumbang.

Pun begitu, Aceh masih mengembangkan sumber energi alternatif atau energi terbaru dan terbarukan yang sesuai kondisi lapangan. Semisal pembangkit listrik tenaga hydro yang berada di Meunasah Keude, Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar. Sementara listrik yang berasal dari tenaga gas dan batu bara selayaknya dipergunakan untuk kebutuhan energi lain.

Ada beberapa solusi yang bisa diterapkan di Aceh untuk memenuhi sumber daya listrik menggunakan energi terbaru dan terbarukan. Beberapa diantaranya seperti tenaga surya, micro hydro (tenaga air), tenaga listrik angin atau kincir angin seperti di Belanda, dan geo-thermal atau energi panas bumi. Dengan bentang alam dan letak geografis yang strategis, Aceh memiliki semua sumber daya ini.

Dr. Husaini M. Hasan, salah satu mantan kombatan GAM yang kini bermukim di luar negeri telah menyadari arti pentingnya sumber daya listrik ini untuk Aceh. Hal tersebut dia paparkan secara panjang lebar dalam buku berjudul “dari Rimba Aceh ke Stockholm” terbitan Batavia Publishing tahun 2015.

“Dengan menggunakan energi alternatif, maka kita dapat menghemat minyak dan gas. Batu bara lebih baik diolah terlebih dahulu untuk mengurangi polusi yang dapat membahayakan kesehatan. Tentu saja pengolahan ini akan meningkatkan biaya. Namun masih memberikan keuntungan bagi industri-industri besar,” tulis Dr. Husaini Hasan dalam bukunya di halaman 445.

Selanjutnya dia mengatakan energi surya memerlukan tempat yang tidak terlindungi, sehingga harus  adanya kontak langsung dengan sinar matahari. Baik di atap-atap bangunan, atau di padang terbuka. “Ini sangat efektif sebagai sumber energi di gedung-gedung pemerintahan, hotel, perumahan, masjid, dan sekolah,” ujarnya.

Energi surya, menurut Dr. Husaini, juga sangat efektif untuk penerangan jalan raya, untuk remote area mulai dari 140 W, 400 W, 800 W dan seterusnya. Sementara untuk perumahan bungalow atau villa cukup dengan daya 2-8 kWh.

“Sementara untuk power plan mencapai 5 MW-250MW. Setiap MW membutuhkan area sekitar 2 hektar. Jaminan pemakaiannya pun mencapai 10-25 tahun tergantung kepada jenis panel yang dipakai. Kelebihannya dapat dipasang langsung di tempat yang diperlukan, tanpa ada pemasangan kabel grid yang panjang,” katanya.

Apa yang disampaikan Dr Husaini Hasan ini, turut menjawab permasalahan yang dihadapi PT PLN Aceh selama ini dengan ranting pohon, layang-layang tersangkut, pohon tumbang atau warga yang membakar sampah di bawah jaringan.

Selain itu, Dr. Husaini Hasan juga memaparkan penggunaan energi listrik tenaga air. Namun untuk hal ini memiliki kelebihan dan kekurangan. “Sangat bergantung kepada aliran air sungai, dan harus jauh dari rumah penduduk. Selain itu perlu adanya pemasangan turbin penggerak dinamo listrik. Perlu pula pemasangan kabel untuk menyalurkan listrik ke rumah-rumah penduduk,” katanya.

Energi alternatif lainnya yang bisa dipergunakan untuk Aceh adalah kincir angin. Meunasah Keude adalah salah satu pilot project untuk penggunaan energi terbarukan ini. Menurut Dr Husaini, di Eropa seperti Denmark, Belanda, Jerman dan Swedia telah menggunakan tenaga kincir angin untuk kebutuhan listrik di negaranya.

“Biasanya kincir angin dibangun di pinggir laut karena membutuhkan kestabilan aliran angin,” ujarnya dalam buku tersebut. Jika merujuk dengan letak geografis Aceh, maka tenaga kincir angin ini hampir bisa dibangun di seluruh daerah pesisir yang berhadapan langsung dengan Selat Malaka dan Samudera Hindia.

Kemudian, energi panas bumi juga cocok dibangun di Aceh. Pasalnya Aceh memiliki empat gunung berapi aktif seperti Gunung Jaboi di Sabang, Gunung Seulawah di Aceh Besar, Gunung Peut Sagoe di Pidie dan Bur Ni Telong di Gayo. Namun untuk energi panas bumi memiliki kendala lain yang dirasa perlu menjadi bahan pertimbangan Pemerintah Aceh.

“Geo-thermal merupakan salah satu alternatif untuk daerah yang dekat cincin Gunung Api. Biasanya harga pemborannya mahal dan kemungkinan tepat sasaran adalah 50 berbanding 50 persen,” katanya.

Solusi lainnya untuk memperkuat suplay arus listrik di Aceh adalah re-cycle energi. Energi ini berasal dari pembakaran-pembakaran limbah organik dan anorganik yang di-recycle. Menurut Dr Husaini Hasan, hal ini telah dipraktekkan di negara-negara maju yang rakyatnya terbiasa dengan recycling. “Pembuangan sampah ini nampaknya hal yang sepele, tetapi ternyata tidak. Banyak manfaat dari re-cycle ini, selain daripada dapat membersihkan lingkungan, dan melestarikan alam,” tulisnya.

Re-cycle merupakan penggunaan kembali bahan-bahan bekas pakai dengan cara memproses ulang. Ini merupakan penghematan terhadap penggunaan kayu, dan bahan baku yang diambil dari hutan. “Jadi, kebiasaan membuang sampah dan menjaga kebersihan ini dimulai dari rumah masing-masing,” katanya.[]