BANDA ACEH – Komunitas Peubeudoh Adat dan Budaya Aceh (Peusaba), Aceh Lamuri Foundation (Alif), dan Aceh Culture and Education (Action) berharap Gubernur Aceh mengeluarkan Peraturan Gubernur (Pergub) yang mengatur pakaian adat Aceh.
“Kami berharap Gubernur Aceh mengeluarkan Pergub yang mengatur tentang pakaian adat. Pakaian adat Aceh harus dikembalikan kepada aslinya, karena sekarang pakaian tersebut telah banyak dilakukan kreasi baru,” kata Ketua Action, Aris Faisal.
Aris Faisal menyampaikan itu saat sosialisasi pakaian adat Aceh di tempat umum di Kota Banda Aceh, Senin, 3 September 2018, malam. Gabunggan komunitas itu mensosialisasikan pakaian adat Aceh di warung kopi (warkop) atau kafe dengan harapan dapat membangkitkan rasa cinta masyarakat terhadap budayanya. Menurut mereka, pakaian ditampilkan dalam sosialisasi itu adalah pakaian sehari-hari yang digunakan masyarakat era Kesultanan Aceh Darussalam.
“(Sosialisasi ini) supaya masyarakat bisa menjaga budaya dan menunjukkan jati diri serta karakter masyarakat Aceh,” kata Sekretaris Alif, Jamaluddin.
Jamaluddin menambahkan, “Bila perlu (pegawai) Pemerintah Aceh harus menggunakan bahasa Aceh setiap hari Kamis berbarengan menggunakan pakaian adat. Kita harapkan dengan adanya pemberlakuan hal tersebut memberikan warna khasanah Aceh yang kental, sehingga dapat meningkatkan kunjungan masyarakat luar ke daerah ini”.
Ketua Peusaba, Mawardi Utsman, juga berharap setidaknya satu hari dalam seminggu para pegawai negeri sipil menggunakan pakaian adat Aceh dan menjadi salah satu atribut yang harus mereka pakai saat bekerja.
“Dalam kehidupan masyarakat Aceh, bila bicara soal pakaian adat, sekarang masih terbayang kepada pakaian linto baro atau dara baro,” kata Mawardi.
Aktivis budaya lainnya yang turut hadir di acara sosialisasi pakaian adat Aceh tersebut, Muhammad Ikhsanuddin, menilai masyarakat Aceh selama ini sudah mengabaikan pakaian adat dalam kehidupan sehari-hari, dan hanya dipakai saat acara pesta pernikahan. Bahkan, kalangan anak muda menganggap pakaian adat Aceh sudah kuno.
“Saya berharap masyarakat Aceh lebih peduli dengan pakaian khas Aceh yang kaya akan motif dan corak,” kata Ikhsanuddin.[]



