Minggu, Juli 21, 2024

Tokoh Masyarakat Kota Sigli...

SIGLI - Para tokoh masyarakat dari 15 gampong dalam Kecamatan Kota Sigli menyatakan...

Tim Polres Aceh Utara...

LHOKSUKON – Kapolres Aceh Utara AKBP Nanang Indra Bakti, S.H., S.I.K., bersama jajarannya...

Pasar Malam di Tanah...

SIGLI - Kegiatan hiburan Pasar Malam yang digelar di tanah wakaf Tgk. Dianjong,...

Tutup Dashat, Kepala DPMPPKB...

ACEH UTARA – Kegiatan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) yang dilaksanakan secara serentak...
BerandaSosok Al-Fata dan...

Sosok Al-Fata dan Pemuda dalam Perspektif Islam

KITA mengetahui bahwa dalam dunia tasawuf dan sufi futuwwah itu diinterpretasikan sebagai norma tingakh laku dan akhlakul karimah yang terpuji dalam meneladani  para rasul dan nabi, sahabat, salafatus salih dan khalaf serta para waliyullah dan ulama sebagai warisatul ambiya. Salah seorang murid Syekh Abdullah al-Kharqani Al-Hambali yang mengarang kitab Manazil As-Sa’irin sebuah kitab berisi pendakian spiritual hasil karya Syekh Ismail Abdullah al-Hawari, beliau berkata: “Inti futuwwah artinya engkau tidak melihat kelebihan pada dirimu dan engkau tidak merasa memiliki hak atas manusia”. Jelas dari pemahaman diatas setiap orang yang meneladani jalan ini juga disebut al-fata yang secara harfiah (bahasa) bermakna pemuda yang tampan (budi pekertinya) dan gagah.

Juga pernah pada suatu  ketika Ja'far bin Muhammad ditanya seseorang tentang konsep futuwwah tersebut. Namun beliau tidak langsung menjawab, tetapi bertanya balik kepadanya, “Apa pendapat kamu?”. Sang penanya pun menjawab: “Jika engkau diberi, maka engkau bersyukur, dan jika tidak diberi, maka engkau bersabar.” Kemudian Ja'far menambahkan, “Anjing pun di tempat kami juga bisa begitu.” Orang itu bertanya, “Wahai anak keturunan Rasulullah, kalau begitu apa maknanya menurut kalian?” lantas Saidina Ja'far menjawab, “Jika kami diberi, makan kami lebih suka memberikannya kepada orang lain lagi, dan jika kami tidak diberi, maka kami bersyukur.”

Walhasil pembangunan spiritual dan pola pikir (mindset) generasi muda lebih diutamakan dari pembangunan sarana dan prasarana seperti jembatan, sektor industri, gedung pencakar langit,. Sebuah pembangunan sarana dan prasarana negara yang maju dan modern, semua itu tidak berharga dan bernilai dibandingkan dengan hancur dan sirnanya pembangunan moral dan spiritual para generasi penerus bangsa.

Semoga generasi muda Indonesia mampu mentasbihkan diri menjadi sosok  al-Fata berakhalkul karimah, menjadikan para syuhada dan pejuang bangsa yang telah beristirahat di alam sana bisa tersenyum indah atas perjuangan mereka dulu juga diharapkan dengan peran dan andil pemuda yang akhalkul karimah dengan imtak (iman takwa) juga dengan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) bisa mewujudkan persada ini menjadi sebuah negeri yang di ridhai oleh Allah SWT dan selalau tercurahkan keberkahan serta rahmat-Nya.[]

Baca juga: