Karya: Taufik Sentana*
Ini betul betul senja
Senja yang sebenarnya.
Diantara ujung hari
Dan malam yang mengintip.
Orang orang senantiasa sibuk
Setelah penat seharian
Dan hilir mudik keramaian,
Mereka seakan meraba
Bibir malam tanpa berbisik.
Di bawah sinaran temaram, ada lampu lampu kota,
Dinding dinding gedung
Dan tepian jalan yang seperti berhias
Dalam warna perak, hidangan warna warni,_ (mungkin ini sajian modernisme?),_
Dan di ujung kaki langit ada suara suara senja menyeruak, membuka tabir sejarah
yang lembab dan dingin,
setelahnya malam tetap setia mendekap dengan segenap rahasia
PERJALANAN JAUH
Perjalanan ke makrifat diri
itulah yang terjauh, walau semestinya dekat, sebab diri penuh dengan Tanda Keberadaan Maha Tinggi.
Tapi jarak adalah adalah relativitas yang lain. Tujuannya adalah kumpulan gairah dan pengharapan puncak. Nilainya setakar dengan tabiat diri
yang terus menempuh.
Diri yang menempuh-menatapaki
anak tangga pengendalian diri, tazkiyah dan thumakninah.[]
*Penyuka Prosa Sufistik.




