Anak adalah ayeum mata? Bagi saya ungkapan ayeum mata cukup cocok digunakan untuk mendeskripsikan tentang anak walaupun memang sebenarnya anak bukan sekadar ayeum mata. Ia juga amanah Allah kepada para orang tua, harus dijaga sebaik-baiknya dan yang paling penting dididik menjadi manusia berimtaq.
Mengapa saya menyebut anak ayeum mata? Lihat saja jika kita pulang ke rumah. Walau secapek apa pun setelah bertungkus lumus di luar, semua itu hilang begitu saja setelah melihat anak.
Lebih-lebih lagi kala melihat tingkahnya yang lucu, rasa letih berganti dengan kebahagiaan yang tiada tandingannya. Apalagi bila sepulang kita dari bekerja, ia keluar dari rumah, berdiri di pintu, menyambut kita dengan senyumnya sambil memanggil, “Ayah! Ayah ka wo, ayah ka wo, horee!” Wah, pasti bertimpa-timpa pula kebahagiaan kita karena itu.
Lantas, apa yang Anda rasakan jika melihat anak kecil yang bertingkah seperti itu? Lazimnya kita menggunakan kata gemas, bukan?
Kata seperti itu juga kita gunakan tatkala melihat anak kecil yang lucu. Sambil mencium kedua pipinya dan meremasnya, kita akan berkata, “Iiiih, gemasnya!”
Pertanyaannya, tepatkah kata gemas yang kita gunakan untuk mendeskripsikan perasaan seperti di atas?
Hati-hati, jangan sampai Anda salah mengekspresikan perasaan karena gemas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI V) bermakna ‘sangat jengkel (marah) dalam hati; sangat suka (cinta) bercampur jengkel; jengkel-jengkel cinta’.
Menurut pengertian itu, berarti perasaan gemas ini adalah perasaan cinta yang bercampur jengkel. Oleh karena itu, jika melihat anak kecil lucu dan Anda merasa gemas, yakinkah ada rasa jengkel di benak Anda?
Perasaan gemas ini lebih tepat jika digunakan untuk menggambarkan perasaan Anda ketika melihat artis atau tokoh sinetron, misalnya, yang tidak Anda sukai, tetap tetap setia menunggu kelanjutan kisahnya.
Penggunaan kata gemas yang tepat dapat dilihat pada kalimat seperti ini, “Sepak terjang Jennifer Dudun benar-benar membuat gemas para ibu rumah tangga.”[]
Sumber: Pusat Bahasa




