Jumat, Juli 19, 2024

Ini Kata Camat Tanah...

ACEH UTARA - Pemerintah sedang melakukan pendataan bangunan yang rusak akibat diterjang badai...

JPU Tuntut Lima Terdakwa...

BANDA ACEH - Jaksa Penuntut Umum menuntut empat terdakwa perkara dugaan korupsi pada...

Abu Razak Temui Kapolda,...

BANDA ACEH – Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Aceh H. Kamaruddin...

Diterjang Badai, Lapak Pedagang...

ACEH UTARA - Banyak lapak pedagang dan warung di sepanjang jalan Simpang Rangkaya,...
BerandaSufi Modern

Sufi Modern

 

Karya terbaik tentang sufi dan modernisme, diantaranya pernah ditulis oleh ulama kita Buya Hamka dalam bukunya Tasawuf Modern. Buku tersebut sekalian menjadi jembatan antara paham apatis dan liberal dalam agama.

Pada praktiknya menjadi sufi bisa rentan masuk ke dalam mistisme belaka bahkan mencampurkan antara hak dan batil (masih ingat?: natal 2019, ada 
sekelompok sufi bersalawat dan menari di gereja ).Mistisme  di atas penulis maksudkan sebagai paham sufi yang berlandaskan pada falsafah belaka dan ditinjau dari pengetahuan Barat.

Sebagaimana awal berkembangnya tasawuf secara formal, ajarannya bukan semata pelarian dari gelombang materialisme serta gaya hidup hedonis, tapi lebih sebagai gerakan perbaikan individu dan masyarakat dengan ketentuan normatif sesuai ajaran Islam.

Dalam kaitan ini, sufi era modern bukan mengabaikan dunia dan membiarkan diri dalam kehinaan dengan pakaian compang camping, apalagi abai terhadap lingkungan sekitar.

Memahami sufi modern berarti merealisasikan akhlak Islam secara lengkap, zahir maupun batin. Sedangkan sikap zuhud yang mashur dalam pandangan sufi adalah upaya diri untuk tidak terjebak dalam kemewahan,kesombongan dan mubazir.

Adapun rasa cinta atau hubb yang dianggap sebagai manifestasi puncak sufi, ia adalah upaya menjadikan ketaatan kepada Kekasih (Allah  SWT dan juga Rasul Muhammad SAW) sebagai suluk (jalan yang ditempuh).

Dan umumnya jalan itu melalui proses riyadhah, latihan khusus, dari taubat, zikir, amal ibadah dan lainnya yang tidak menyebelahi syariah. 

Adapun anggapan orang yang menyatakan dirinya telah sampai pada makrifat dan dapat melihat hakikat (sedang ia abai akan syariat)  hanyalah “bisikan” setan agar seseorang yang merasa sufi semakit tersesat. Semoga kita selalu terbimbing untuk kuat dalam ketaatan, iman dan akhlak yang baik.[]

Taufik Sentana
Peminat kajian sosial budaya.
Praktisi Pendidikan Islam.

Baca juga: