ACEH UTARA — Di tengah dominasi kepemimpinan laki-laki pada abad ke-15, Kesultanan Samudera Pasai pernah dipimpin oleh seorang perempuan yang namanya harum dalam catatan sejarah Islam Nusantara. Dialah Sultanah Nahrisyah, penguasa perempuan yang memerintah Kerajaan Samudera Pasai sekitar tahun 1405 hingga 1428 Masehi.

Sultanah Nahrisyah merupakan putri dari Sultan Zainal Abidin Malik Az-Zahir. Setelah wafatnya sang ayah, ia naik takhta dan memimpin kerajaan yang saat itu tengah berusaha bangkit dari berbagai tantangan, termasuk dampak serangan Majapahit yang sempat melemahkan kekuatan politik dan ekonomi Pasai.

Kepemimpinan Sultanah Nahrisyah menjadi bukti bahwa perempuan telah memainkan peran penting dalam perjalanan sejarah Islam di Asia Tenggara sejak berabad-abad lalu. Di bawah pemerintahannya, Samudera Pasai kembali menemukan kejayaannya sebagai pusat perdagangan internasional dan pusat penyebaran Islam yang berpengaruh di kawasan Selat Malaka.

Pelabuhan-pelabuhan Pasai kembali ramai disinggahi kapal-kapal dagang dari berbagai negeri. Pedagang dari Arab, Persia, India, hingga Tiongkok menjadikan Pasai sebagai salah satu titik penting dalam jalur perdagangan dunia. Kemakmuran kerajaan tumbuh seiring berkembangnya aktivitas ekonomi dan hubungan diplomatik dengan berbagai bangsa.

Salah satu peristiwa penting pada masa pemerintahannya adalah kunjungan armada besar Tiongkok yang dipimpin Laksamana Cheng Ho. Kunjungan tersebut menunjukkan posisi strategis Samudera Pasai dalam jaringan perdagangan dan diplomasi internasional pada masa itu. Kehadiran Pasai di panggung dunia semakin memperkuat perannya sebagai gerbang Islam di kawasan Asia Tenggara.

Namun, warisan Sultanah Nahrisyah tidak hanya tercermin dari kemajuan ekonomi dan politik. Ia juga dikenang sebagai pemimpin yang arif dan bijaksana dalam memperkuat syiar Islam. Pada masa pemerintahannya, kehidupan keagamaan berkembang pesat dan Pasai semakin dikenal sebagai pusat pendidikan serta penyebaran ajaran Islam di Nusantara.

Jejak kebesarannya masih dapat disaksikan hingga kini melalui makam Sultanah Nahrisyah yang berada di kompleks pemakaman raja-raja Samudera Pasai di Desa Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara. Makam tersebut menjadi salah satu peninggalan sejarah Islam yang paling berharga di Indonesia.

Nisan makamnya yang bercorak seni Islam Gujarat dihiasi kaligrafi Arab yang indah. Inskripsi pada batu nisan itu mencatat bahwa Sultanah Nahrisyah wafat pada hari Senin, 17 Zulhijjah 831 Hijriah atau bertepatan dengan tahun 1428 Masehi. Bagi para sejarawan, nisan tersebut bukan sekadar penanda makam, melainkan bukti nyata kejayaan peradaban Islam yang pernah berkembang pesat di pesisir utara Aceh.

Lebih dari enam abad setelah wafatnya, nama Sultanah Nahrisyah tetap dikenang sebagai simbol kepemimpinan, keberanian, dan kecerdasan perempuan dalam sejarah Nusantara. Di tengah arus perdagangan dunia dan perkembangan Islam yang pesat pada masanya, ia berhasil membawa Samudera Pasai kembali menjadi kerajaan yang disegani, sekaligus meninggalkan warisan berharga bagi perjalanan sejarah Aceh dan Indonesia.

Sultanah Nahrisyah bukan hanya seorang ratu. Ia adalah sosok yang membuktikan bahwa kepemimpinan, kebijaksanaan, dan pengabdian kepada masyarakat tidak mengenal batas gender. Dari tanah Pasai, namanya terus hidup sebagai salah satu perempuan paling berpengaruh dalam sejarah Islam Asia Tenggara.

‎Ketua Ikatan Agam Inong Aceh, Teuku Muhammad Aidil, menyebutkan Makam Sultanah Nahrasiyah, Permata Peradaban Islam dari Samudera Pasai Di Gampong Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, sekitar 18 kilometer di sebelah timur Kota Lhokseumawe, berdiri salah satu peninggalan sejarah Islam paling berharga di Nusantara. Makam ini berada di Kompleks II Kuta Karang, tidak jauh dari kompleks makam para raja Kesultanan Samudera Pasai, kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara.

‎Makam Sultanah Nahrasiyah bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir seorang penguasa perempuan, melainkan juga mahakarya seni dan peradaban Islam yang telah menarik perhatian para sejarawan dunia. Orientalis Belanda, Prof. Dr. C. Snouck Hurgronje, dalam tulisannya pada tahun 1907 bahkan menyebut makam tersebut sebagai salah satu makam terindah di Asia Tenggara karena keindahan seni pahat dan nilai sejarah yang dikandungnya.

‎”Terbuat dari batu pualam yang didatangkan dari Gujarat, India, makam ini menampilkan ukiran kaligrafi yang begitu halus dan memukau. Pada dinding-dinding makam terukir ayat-ayat suci Al-Qur’an, di antaranya Surat Yasin, Surat Al-Baqarah ayat 285, serta sejumlah ayat dari Surat Ali Imran. Setiap pahatan menunjukkan tingginya perkembangan seni ukir Islam dan hubungan erat Samudera Pasai dengan pusat-pusat perdagangan serta peradaban Islam dunia pada abad ke-15,” ungkapnya, Selasa, (9/6/2026).

‎Selain ayat-ayat Al-Qur’an, terdapat pula inskripsi berbahasa Arab yang menyebutkan bahwa makam tersebut adalah tempat peristirahatan seorang ratu yang mulia dan bercahaya. Prasasti itu juga mencatat bahwa Sultanah Nahrasiyah wafat pada tahun 1428 Masehi, setelah memimpin Kesultanan Samudera Pasai pada masa kejayaannya.

‎”Hingga kini, makam Sultanah Nahrasiyah masih terawat dan tetap berdiri kokoh tanpa mengalami kerusakan berarti. Keutuhan bangunan berusia hampir enam abad tersebut menjadi bukti tingginya kualitas seni dan teknologi konstruksi pada masa Kesultanan Samudera Pasai,” paparnya.

‎Sebagai salah satu warisan sejarah terpenting di Aceh, Makam Sultanah Nahrasiyah kini menjadi destinasi wisata sejarah dan religi yang banyak dikunjungi wisatawan, peneliti, serta peziarah dari berbagai daerah.

‎”Keberadaannya tidak hanya menjadi saksi bisu kejayaan Samudera Pasai, tetapi juga simbol peran penting perempuan dalam sejarah kepemimpinan dan perkembangan peradaban Islam di Nusantara. Kini dipromosikan sebagai situs sejarah,”  [adv]