Kamis, Juli 25, 2024

Spanduk Dukungan Bustami Maju...

LHOKSEUMAWE - Sejumlah spanduk berisi dukungan kepada Bustami Hamzah untuk mencalonkan diri sebagai...

Yayasan Geutanyoe Rayakan Hari...

LHOKSEUMAWE - Yayasan Geutanyoe merayakan Hari Anak Nasional tahun 2024 bersama 227 anak...

Hendry Ch Bangun Tanggapi...

JAKARTA - Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Hendry Ch Bangun menegaskan,...

Puluhan Personel Polres Aceh...

LHOKSUKON - Polres Aceh Utara melakukan tes narkoba melalui metode tes urine menggunakan...
BerandaNewsSwedia Akan Deportasi...

Swedia Akan Deportasi 80 Ribu Pencari Suaka

STOCKHOLM – Menteri Dalam Negeri Swedia mengumumkan rencana pendeportasian sekitar 80.000 pencari suaka yang pengajuan suakanya ditolak.

Anders Ygeman mengatakan, para migran akan dideportasi dengan pesawat sewaan dalam jangka beberapa tahun.

“Saat ini ada 60.000 orang, tapi jumlahnya bisa meningkat sampai 80.000,” kata Ygeman kepada media lokal.

Sebanyak 163.000 migran meminta suaka di Swedia pada 2015. Angka tersebut ialah yang tertinggi per kapita di Eropa.

Dari kira-kira 58.800 kasus yang diproses tahun lalu, 55% diterima.

Negara-negara Eropa kewalahan menangani puluhan ribu migran yang mencapai daratan Eropa melalui Yunani sejak awal tahun. Berdasarkan data PBB, ada sekitar 46.000 migran yang tiba di Yunani sejak 1 Januari 2016, 170 di antara mereka meninggal dunia saat berupaya melintasi lautan.

Swedia pada pekan ini menjadi negara Eropa terbaru yang menjadi lokasi ketegangan di antara para migran karena kekerasan. Seorang pencari suaka berusia 15 tahun ditangkap di Molndal, dekat Gothenburg, setelah sesama pencari suaka berusia 22 tahun meninggal karena ditikam.

Pejabat migrasi menyatakan 35.400 anak di bawah umur mencari suaka di Swedia pada tahun 2015, lima kali lipat jumlahnya pada 2014.

Sementara itu, di negara tetangga, Denmark, pemerintah pada pekan ini menyetujui peraturan untuk menyita barang berharga para pengungsi dengan harapan membatasi laju masuknya migran.

Sejumlah kalangan membandingkan kebijakan itu dengan penyitaan emas dan barang berharga lainnya dari kaum Yahudi oleh Nazi di masa Holokos.

Pemerintah Yunani merespons tuduhan dalam draf laporan Komisi Eropa yang menyebut Yunani “serius melalaikan” kewajibannya untuk mengontrol batas luar wilayah bebas paspor Eropa, Zona Schengen.

“Komisi “main tuduh” dan mengatakan mereka gagal mengeksekusi program yang disepakati tahun kemarin untuk relokasi puluhan ribu migran dan pencari suaka yang terdampar di Yunani,” kata Juru bicara pemerintah Yunani, Olga Gerovasili, Rabu 27 Januari 2016.[] sumber: bbc/tempo.co

Baca juga: