SYARIFAH Ibrahim, adalah seorang perempuan janda korban konflik Aceh. Ia lahir di Cot Usi, Aceh Utara, pada 1 Juli 1962. Suaminya, (Almarhum) M. Adam, menghembuskan nafas terakhir pada saat Darurat Militer, sekira seminggu setelah pulang dari pengungsian yang ditempatkan di Kampus Universitas Malikussaleh Cot Tgk Ni Reuluet (saat itu tempat itu belum berfungsi sebagai tempat kuliah, masih dijadikan kamp tentara).

Pada Rabu siang, 11 Januari 2017, penulis mengunjungi rumah Syarifah dan berbincang dengan Bustami, anak bungsu dari Syarifah-M Adam. Bustami yang dilahirkan di Alue Garot pada 5 April 1993, pada saat meninggal ayahnya, M Adam, ia masih kecil dan belum sekolah, baru berumur 4 tahun.

Malam itu, selepas Magrib, ayah dari tiga orang anak tersebut berniat meminum kopi di warung yang tak jauh dari rumahnya, sekitar 300 meter. M. Adam lebih 3 bulan bersama seluruh warga gampong Teupin Reusep mungungsi di Reuleut, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, atas perintah tentara.

Malam itu begitu mencekam, suara tembakan tak terhitung jumlahnya, Bustami dan abangnya juga Syarifah, tidak menyangka siapa yang jadi korban timah panas tersebut. Keluarga terus menunggu di rumah.

Tidak ada satupun warga yang berani keluar rumah pada malam itu. Hingga Pagi pun tiba, betapa terkejutnya Syarifah dan anak-anak juga semua warga. M. Adam ditemukan telah meninggal dunia, tergeletak di pinggir jalan, tubuhnya remuk dengan ratusan peluru, juga luka sayat dan irisan pisau di sekujur tubuh. Parahnya lagi, kulit kepalanya dikelupas dari belakang sampai ke atas.

Suasana tiba-tiba menjadi hening di bawah terik panas. Cerita Bustami sempat terhenti, matanya tampak berkaca-kaca dan air matanya pun akhirnya berlinang tak terbendung. Dia begitu sedih bila mengingat nasib keluarganya dan masa lalu yang sangat suram.

Pada 2015 lalu Bustami telah menamatkan Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Darussalam Calok Giri, Kecamatan Dewantara.

Bustami punya keinginan untuk melanjutkan pendidikan di dayah, namun karena tidak ada biaya, niat itu diurungkan untuk sementara waktu, apalagi mengingat ibunya sudah tua.

Kegiatan Bustami sehari-hari adalah membantu ibunya mengupas pinang milik orang yang diberi upah 1000 per kilogram, dan terkadang Bustami menjadi buruh sawit di kampungnya. Pendapatan keluarganya tidak menentu.

Pada tahun 2014, pernah datang geuchik (sekarang tidak menjabat lagi) ke rumahnya. Geuchik itu mengatakan ingin mengurus proposal rumah bantuan dengan meminta foto copy KK, foto copy KTP, dan sejumlah uang, namun hingga saat ini, rumah bantuan yang dijanjikan itu tak kunjung datang.

Bekas geuchik itu kini kabarnya telah pergi ke Malaysia dan belum pulang hingga saat ini. Miris melihat nasib keluarga ibu Syarifah. Semoga ada uluran tangan kita untuk menderma guna meringankan beban ibu Syarifah. Rumah Syarifah ini berada di Duson Alue Garot, Gampong Teupin Reusep, Kecamatan Sawang, Aceh Utara, tepat di depan kebun karet di jalan lintas Krueng Geukuh – Takengon (eks jalan KKA). Siapa pun yang melintasi dapat melihat rumatnya.[]

Penulis: Nyakman Lamjame, penduduk Krueng Mane, Aceh Utara, sutradara grup mopmop Meurak Jeumpa Aceh.