Oleh: Taufik Sentana

Dalam petikan ayat Ali Imran ayat 79 awal, disebutkan bahwa “darasa dan tadarus” merupakan bagian dari karakter Rabbani, bahwa dengan “dirasah” ini seorang muslim dapat memperoleh hikmah dan menerapkan pesan pesan Alquran.

Kata “darasa” muncul dalam Al-Qur’an sebanyak 6 kali. Kata ini muncul dalam bentuk kata kerja (fiil) dan masdar( kata benda jadian)

Kata “darasa” dalam bentuk fiil (kata kerja):
Dua kali dalam bentuk fi’il madhi, yaitu dalam surah al-An’am ayat 105 dan al-A’raf ayat 169.

Tiga kali dalam bentuk fi’il madhori’, yaitu dalam surah Ali-Imran ayat 79 dan 80, al-Qalam ayat 34-38, dan Saba’ ayat 44

Mari kita kembangkan lagi:

Kata “tadarus” yang akan kita bahas ini,  berasal dari akar “darasa”. Ada beberapa variasi tambahan di dalamnya. Yaitu “Daarasa”, “tadaarasa”, “darrasa”. Masing masing dengan makna berbeda dengan kata lampau (past tense)

Namun kesemuanya mengacu pada satu kecakapan dan skill dalam skala waktu tertentu.

Kata “Daarasa”, dapat diartikan sebagai proses mengkaji dan memperdalam kajian suatu topik. menjadi “dirasah”:kajian bidang studi khusus.

Kata “darrasa”, semakna dengan kata “daarasa” tadi, namun ia lebih intens, pelakunya disebut “mudarris”(guru yang melatih skill khusus). Maknanya lebih sempit dari kata “muallim”.

Adapun “tadaarasa”,  yang kemudian menjadi “tadaarus” adalah proses melatih skill (pembiasaan) secara terbimbing dan bersama sama.

Dalam kata “tadaarasa”, bermakna “saling” mempelajari, ada konsep dialogis dan interaksi dalam kegiatannya.

Pada poin inilah yang kita pahami dalam kasus” tadarus Alquran. Yaitu suatu proses membaca dan mempelajari Alquran secara terbimbing berdasarkan tajwid dan sambil mencari  maksud dari ayat yang dibaca. Sehingga mudah diamalkan dan mengkonstruksi pengetahuan baru (hikmah) .

Dalam banyak kasus di kultur kita,  tadarus Alquran menjadi (hanya) saling membaca bergantian untuk mencapai target kuantitas bacaan tertentu.

Ini tidak mengurangi syiar Ramadhan, dan tetap mendapatkan pahala sesuai yang diniatkan.

Yang menjadi perkara kemudian adalah apabila makna tadarus hanya dianggap seperti itu saja. Para penceramah juga jarang mengangkat poin tersebut.

Beberapa remaja masjid dan program kemasjidan telah mengarah pada perbaikan tradisi tadarus yang lebih optimal. Sebagian masjid ada yang memiliki jadwal tematik selain bulan Ramadan, tapi tidak banyak.

Untuk itu masih banyak memerlukan proses edukasi lebih dalam ke masyarakat. Hingga makna “tadarus” betul betul sesuai maksudnya.[]