ACEH UTARA – Lembar demi lembar sejarah emas Kesultanan Samudra Pasai seolah hidup kembali di hadapan masyarakat. Melalui stan bertajuk “Taman Para Sultan” yang berdiri megah di arena Piasan Pase 2026, memori kejayaan peradaban Islam di masa lampau kembali didekatkan ke ruang publik.
Stan edukatif ini diinisiasi oleh Museum Islam Samudra Pasai di bawah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Utara. Di sana, jejak para penguasa besar dipamerkan lewat dokumentasi nisan berinskripsi yang tertata rapi, membimbing ingatan pengunjung melintasi garis waktu dari abad ke-13 hingga ke-16 Masehi.
Piasan Pase 2026 sendiri digelar oleh Pemkab Aceh Utara sebagai refleksi kultural memperingati Milad Samudra Pasai dan Kabupaten Aceh Utara yang diklaim telah berusia 800 tahun. Kemeriahan ini berpusat di Lapangan Upacara Kantor Bupati Aceh Utara, Landing, Kecamatan Lhoksukon, mulai 7 hingga 13 September 2026.
Meniti Garis Waktu Para Penguasa Pasai
Memasuki stan ini, pengunjung diajak mengenal sosok-sosok legendaris yang pernah menakhodai emporium Islam pertama di Nusantara ini hingga Kawasan Asia Tenggara. Lembaran informasi menyajikan nama beserta masa kepemimpinan para sultan secara berjenjang:
Abad ke-7 s.d. 8 Hijriyah (Abad 13–14 M): Era peletak fondasi kerajaan, Sultan Al-Malik Ash-Shalih (686–696 H / 1287–1297 M) dan Sultan Al-Malik Azh-Zhahir Muhammad (696–726 H / 1297–1326 M). Disusul periode kepemimpinan oleh Sultan Zainal ‘Abidin (749–808 H / 1349–1406 M), sosok ratu agung Malikah Nahrasyiyah (808–831 H / 1406–1428 M), hingga Sultan Zainal ‘Abidin (II) Ra-Ubabdar (831–841 H / 1428–1438 M).
Abad ke-9 Hijriyah (Abad 15 M): Periode kepemimpinan Sultan Shalahuddin, Khoja As-Sultan Al-‘Adil Ahmad, Sultan Abu Yazid Ahmad (III), Sultan Mu’iz Ad-Dunya Wa Ad-Din Ahmad (IV), Sultan Mahmud, hingga Sultan Zainal ‘Abidin (III).
Abad ke-10 Hijriyah (Abad 16 M): Fase kepemimpinan Sultan Muhammad Shah (II), Sultan Al-Kamil, Sultan Muhammad Syah (III), Khoja Sultan Ahmad (V), dan Sultan Zainal ‘Abidin (IV).
Tak hanya itu, sudut stan juga mengenalkan figur penting dari era sebelum kesultanan tegak pada abad ke-13, yakni Ibnu Mahmud dan Ibnu Khaddajih.
Menyaksikan Keramik Kuno dan Batu Nisan ‘Mahkota Pasai’
Kekayaan peradaban Samudra Pasai kian terasa berkat kehadiran benda sejarah asli dan replika otentik. Salah satu yang mencuri perhatian adalah batu nisan dengan tipologi “Kulahkama Pasai” atau Mahkota Pasai, serta kemegahan replika nisan marmer Shadrul Akabir ‘Abdullah Bin Muhammad Al-Abbasiy. Ada juga pajangan umpak batu penyangga bangunan kuno serta batu laterit yang unik.
Di balik etalase kaca yang dijaga ketat, kilau hubungan internasional Pasai sebagai bandar perdagangan global terpancar nyata. Pengunjung dapat mengagumi pecahan Keramik Cina Dinasti Yuan dan Ming, Keramik Vietnam, hingga tembikar glasir eksotis asal Gurgan-Gujarat (India) serta Timur Tengah dari ratusan tahun silam.
Antusiasme warga terpancar jelas sepanjang pameran berlangsung. Penjaga Stan Taman Para Sultan, Karimah, mengungkapkan bagaimana stan tersebut selalu dipadati oleh rombongan warga maupun anak-anak sekolah.
“Stan ini ramai dikunjungi masyarakat selama kegiatan berlangsung. Para pelajar yang didampingi dewan gurunya turut diperkenalkan kepada mereka siapa saja tokoh Kesultanan Samudra Pasai,” tutur Karimah kepada portalsatu.com, Kamis, 10 September 2026.
Bagi Karimah, ruang pameran temporer ini menjadi jembatan emosional yang sangat krusial, terutama bagi anak-anak muda agar tidak melupakan akar sejarah identitasnya.
“Event besar seperti ini sangat bermanfaat, terutama dari segi sejarah Samudra Pasai penting ditampilkan, agar generasi muda dapat mengenal kisah kejayaan Aceh masa kesultanan untuk bisa melestarikan hingga ke depan. Piasan Pase tidak sekadar menjadi rangkaian peringatan Hari Jadi Samudra Pasai dan Hari Jadi Kabupaten Aceh Utara, tetapi menjadi momentum untuk kembali mendekatkan sejarah kepada masyarakat,” pungkas Karimah.[]







