Jumat, Juli 26, 2024

Warga Lhoksukon Dihebohkan Penemuan...

LHOKSUKON - Masyarakat Gampong Manyang, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara, dihebohkan penemuan mayat laki-laki...

Capella Honda Gandeng Jurnalis...

BANDA ACEH - Dalam rangka kampanye Sinergi Bagi Negeri, PT Astra Honda Motor...

Kejari Gayo Lues Eksekusi...

BLANGKEJEREN - Kejaksaan Negeri Kabupaten Gayo Lues kembali mengeksekusi uqubat cambuk terhadap delapan...

Pj Bupati Gayo Lues...

 BLANGKEJEREN - Askab PSSI Kabupaten Gayo Lues mulai mengelar pertandingan sepak bola Antar...
BerandaBerita SubulussalamMakam Syekh Hamzah...

Makam Syekh Hamzah Fansuri di Kota Subulussalam Destinasi Wisata Religi yang Menarik untuk Kunjungi

SUBULUSSALAM – Siapa yang tidak kenal sosok ulama kharismatik Aceh yang satu ini. Ia adalah Syekh Hamzah Fansuri seorang cendekiawan, ulama tasawuf dan budayawan. Makamnya ada di Kampong Oboh, Kecamatan Rundeng, Kota Subulussalam, Aceh.

Kini, makam ulama tasawuf yang hidup pada empat abad silam tepatnya berkisar pada pertengahan abad ke-16 dan ke-17 Masehi itu, menjadi destinasi wisata religi di Kota Subulussalam. Wisatawan yang hadir di sana bukan cuman dari Aceh maupun Indonesia pada umumnya, namun juga banyak wisatan dari luar negeri berkunjung ke Makam Syekh Hamzah Fansuri.

Hal ini tidak terlepas dari sosok Syekh Hamzah Fansuri salah satu penyebar agama Islam di Serambi Mekkah dan merupakan figur penting dalam sejarah kebudayaan Melayu-Indonesia.

Sejumlah referensi menyebutkan tokoh sufi dan sastrawan ini hidup dalam masa pemerintahan Sultan Alaidin Riayat Syah IV Saiyidil Mukammil (997-1011 H-1589-1604 M) sampai ke permulaan pemerintahan Sultan Iskandar Muda.

Kapan Syeikh Hamzah Fansuri lahir secara tepat belum dapat dipastikan. Adapun tempat kelahirannya di Barus atau Fansur sebagaimana ditulis oleh Prof. A. Hasymi, Fansur itu satu kampung yang terletak antara Kota Singkil dengan Gosong Telaga (Aceh Selatan).

Kini, jasad Hamzah Fansuri telah tiada, tetapi namanya terus dikenang sejagat raya lewat karya-karyanya menjadi sumber ilmu pengetahuan baik bidang sastra, tasawuf dan budaya.

Namun barangkali ada yang belum mengetahui bila makam ulama besar sekaligus sufi bernama Syekh Hamzah Al-Fansuri ini berada di Desa Oboh, Kecamatan Rundeng atau berjarak sekitar 23 kilometer dari pusat kota Subulussalam.

Untuk sampai ke lokasi tersebut, pengunjung hanya menempuh jarak sekitar 30 menit perjalanan darah lewat akses jalan aspal hotmix hingga sampai ke tempat yang sangat sakral menjadi tujuan peziarah. Masyarakat di sana menyebutnya Makam Mbah Oboh.

Makam ahli tasawuf yang populer dengan Syair Perahu ini berada di dalam ruangan yang ditutupi dengan kelambu berwarna kuning. Terdapat tiga batu nisan di dalamnya yang dipercayai sebagai makam Syekh Hamzah Al-Fansuri dan istri serta anaknya.

Sedangkan di luarnya ada makam mertua perempuan dan laki-lakinya serta murid dan sahabat Syekh Hamzah Al-Fansuri. Tempat tersebut telah direnovasi dan dibuat seperti bentuk masjid.

Sejarah Kampong Oboh

Penjaga Makam Syekh Hamzah Fansuri, Khalid Ujung mengatakan sosok ulama sufi tersebut, mereka menyebutknya Tuan Syekh Hamzah Fansuri berasal dari Barus datang ke mari (Oboh sekarang) ditemani martuanya dengan membawa dua pohon beleboh.

Makam Syekh Hamzah Fansuri ada di Kampong Oboh, Kecamatan Rundeng, Kota Subulussalam. Dok. Disporapar Kota Subulussalam

“Saat itu tidak ada satu manusia pun di sini, Tuan Syekh Hamzah Fansuri pertama kali kemari,” kata Khalid Ujung yang juga Imam Kampong Oboh menceritakan tentang sosok Syekh Hamzah Fansuri beberapa waktu lalu kepada portalsatu.com saat menerima peziarah ke lokasi Makam Mbah Oboh itu.

Mendirikan Meunasah

Disebutkan, kedatangan Tuan Syekh Hamzah ke daerah yang berada di bantaran Lae (Sungai) Souraya itu untuk mencari tanah kejujuran yang belum ditemukan sebelumnya. Di lokasi tersebut, Syekh Hamzah Fansuri mulai bercocok tanam menanamkan satu kaleng padi dan saat panen hasilnya pun satu kelang.

“Dia dari dulu mencari tanah kejujuran, dalam sejarah, dia tanam satu kaleng padi, pas waktu panen hasilnya juga satu kaleng, inilah tanah yang jujur katanya. Akhirnya dia baru mendapatkan tanah yang jujur itu ada di Oboh,” ungkap Khalid Ujung.

Setelah menetap di Kampong Oboh, Syekh Hamzah Fansuri mendirikan pusat pendidikan Islam yakni Meunasah atau sekarang lebih akrab disebut Dayah. Satu per satu masyarakat mulai berdatangan belajar di sana, termasuk Syekh Abdurrauf yang makamnya di Desa Deyah Raya, Syekh Kuala, Banda Aceh.

Di tempat tersebut, Syekh Hamzah Fansuri menanam dua batang pohon beleboh tepatnya sekitar 50 meter arah depan makam dan sekira 500 meter di bagian belakang makam. Sejarah inilah menjadi cikal bakal lahirnya Kampong Oboh.

“Tuan Syekh Hamzah Fansuri dalam sejarahnya, dia menanam pokok kayu beleboh sekitar 50 meter di depan makam, ke bawah ada sekitar 500 Meter. Itulah sejarahnya ini jajahan Kampong Oboh,” ujar Khalid Ujung.

Makam Syekh Hamzah Fansuri di Kota Subulussalam menjadi destinasi wisata religi yang menarik untuk dikunjungi. Foto. Dok. Disporapar Kota Subulussalam

Destinasi Wisata Religi

Kini, Kampong Oboh menjadi tempat destinasi wisata religi karena di sana ada Makam Syekh Hamzah Fansuri ulama Kharismatik Aceh. Pemerintah Kota Subulussalam telah menetapkan makam ini sebagai Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala.

Di kompleks makam ini juga terdapat beberapa makam kuno lainnya. Kini dijadikan sebagai tempat wisata religi bagi sebagian orang yang ingin mengenal lebih jauh sosok Syekh Hamzah Al-Fansuri.

Nah, bagi bagi kamu yang ingin tahu lebih jauh sosok Syekh Hamzah Fansuri, bisa berkunjung ke Oboh, nanti pengunjung bisa berincang-bincang dengan penjaga makam Khalidin Ujung dan Abdullah yang mengetahui cerita kehidupan Syekh Hamzah Fansuri saat menetap di Kampong Oboh.

Selain wisara religi, masih banyak lagi potensi wisata lainnya yang ada di Bumi Sada Kata ini bisa dilihat dari instagram @wisata.kotasubulussalam. (Disporapar).

 

Baca juga: