SUBULUSSALAM – Sejumlah warga Kampong Namo Buaya, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, menyayangkan kualitas pembangunan tanggul Masjid At-Taqwa di kampong itu diduga dikerjakan asal jadi.
Akibatnya tanggul yang dikerjakan menggunakan APBDes 2018 itu ambruk sekitar 15 meter diduga akibat kualitas bangunan tidak sesuai spesifikasi. Padahal, tanggul tersebut baru dibangun akhir Desember 2018 dan ambruk sekitar pertengahan Januari 2019.
Melihat kualitas bangunan tersebut, masyarakat Namo Buaya telah menyampaikan kepada kepala desa yang bersangkutan agar tanggul yang roboh segera diperbaiki. Namun hingga memasuki Agustus belum ada tanda-tanda perbaikan tanggul tersebut.
“Sudah kami sampaikan waktu itu, supaya diperbaiki, katanya waktu itu, iya, akan diperbaiki. Namun sampai sekarang tidak juga, mereka malah beralasan akibat bencana alam,” kata warga Kampong Namo Buaya, M. Saleh Simarmata kepada portalsatu.com, Kamis, 8 Agustus 2019.
Hal itu disampaikan M. Saleh Simarmata didampingi empat warga Nomo Buaya lainnya, Sukardi Bako, Alum Sambo, Ambren Simarmata, dan Saddam Sambo, saat berkunjung ke Kantor PWI Kota Subulussalam di Jalan Malikussaleh.
Saleh mengatakan, puluhan warga setempat menyatakan kekecewaan terhadap kualitas bangunan tanggul dibuktikan surat berisikan daftar nama-nama masyarakat berikut tanda tangan dalam surat tertanggal 29 Juli 2019.
Surat yang ditandatangani sebanyak 76 warga Namo Buaya itu ditujukan ke Inspektorat Kota Subulussalam agar menyelidiki realisasi dana desa pembangunan tanggul yang roboh setelah sekitar dua minggu dibangun.
Saleh Simarmata bersama empat rekannya menambahkan, surat pengaduan itu juga ditembuskan kepada Wali Kota Subulussalam, DPRK, pihak Kejaksaan dan Polsek Sultan Daulat.[]



