JAKARTA – Mantan Menteri Pendayagunaan BUMN dan juga eks-Komisaris Utama Pertamina, Tanri Abeng, buka-bukaan soal akar masalah perusahaan pelat merah RI sulit mengalahkan Malaysia.

Tanri menyebut selama ini ada lobi-lobi politik dalam penentuan calon direksi atau komisaris BUMN. Salah satu yang menonjol saat proses penunjukan manajemen di BUMN, termasuk direksi. Ini harus dibenahi agar menciptakan manajemen BUMN terbaik.

“Prosesnya kurang tepat karena saya tahu betul prosesnya bagaimana calon-calon direksi BUMN itu melakukan lobi ke partai-partai politik, kekuatan-kekuatan politik, jadi itu menurut saya mengganggu,” ungkap Tanri di Jakarta, 6 Desember 2019.

Tanri menilai hal ini kemudian berimbas ke struktur manajemen BUMN yang terlalu gemuk dan tidak efisien karena ketidaktepatan menempatkan orang-orang untuk mengelola BUMN.

Dia minta jangan sampai ada campur tangan politik. Tanri mengusulkan agar dibentuk tim seleksi di BUMN. Tidak hanya menyeleksi, tapi mencari talenta terbaik.

“Lakukanlah tanpa ada politisasi, jangan juga masukkan aspek birokrasi di situ. Pandangan saya, pimpinan BUMN sekarang bentuklah dengan tim seleksi di BUMN cari talent-talent terbaik dan profesional,” tegasnya.

Perburuan calon bos BUMN yang profesional ini diterapkan Malaysia dan Singapura, mereka memiliki tim seleksi yang mencari kandidat-kandidat terbaik untuk disaring menjadi petinggi BUMN.

Dari tim seleksi ini, kemudian baru dimasukkan ke Tim Penilai Akhir. “Kalau politisasi dan birokratisasi ini dipotong, saya yakin kita bisa sama dengan BUMN Malaysia dan Singapura,” ujar Tanri.

Dia mengatakan, tidak ada undang-undang dan regulasi yang membatasi proses untuk membangun seleksi secara profesional. Ini menjadi kewenangan Menteri BUMN, bagaimana melakukan pencarian yang terbaik seperti dilakukan Malaysia, Singapura, dan China.[]Sumber: cnbcindonesia.com