BANDA ACEH – Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) melakukan doa bersama di Kompleks Makam Baiturrijal di Kandang XII, Banda Aceh, Minggu, 6 Mei 2018.

Pembina Mapesa, Taqiyuddin Muhammad, di acara tersebut, mengatakan, Aceh harus berbekal dengan berbagai macam ilmu supaya bisa menjayakan kembali Islam. Masyarakat Aceh, kata dia, seharusnya mengetahui bahwa pada abad ke-19, Aceh setelah berperang lama sekali dengan Belanda, habis semua jiwa, harta, “dan kita harus menemukan fakta bahwa kita kalah”.

“Kita belajar dari kekalahan itu bahwa kita telah lama terlena, seperti kita hari ini keterlenaan itu juga masih ada. Kita ketinggalan dalam bidang ilmu pengetahuan teknologi dan sebagainya,” kata Taqiyuddin.

Taqiyuddin menjelaskan bahwa Alquran juga telah menyatakan tentang keutamaan ilmu pengetahuan, ‘Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan'.

“Ilmu pengetahuan adalah hal pokok Aceh kalah perang, juga ketertinggalan dalam ilmu pengetahuan modern. Berarti kita harus berbekal dengan berbagai macam ilmu, bukan saja ilmu agama, tetapi juga dengan ilmu itu, kita mengangkat bendera Islam,” kata Taqiyuddin.

 Ia mengatakan, orang-orang Islam dahulu dikenal karena empunya peradaban. Mereka menyebarkan ilmu pengetahuan, seperti Ibnu Sina dan lain-lain.

“Jadi sekarang carilah sesuatu yang dapat berguna bagi umat manusia, makin besar kegunaannya itu maka kita telah ikut membantu membangun peradaban. Dengan cara harus menjadi pemilik dari setiap terobosan baru,” katanya.

Terkait dengan tujuan keterlibatan Mapesa selama ini dalam hal sejarah khususnya jejak sejarah berupa batu nisan, Taqiyuddin menjelaskan bahwa kepentingan utama dalam mengkaji dan mengetahui sejarah adalah untuk mengetahui segala yang baik dan bisa mengambil pelajaran dari setiap kekeliruan yang telah terjadi di masa lalu.

“Pengkajian sejarah yang dilakukan Mapesa selama ini adalah bertujuan untuk menjadi amal, menjadi bekal di hari kemudian atau untuk bisa mengurangi dosa-dosa, dan sebagai ibadah,” kata Taqiyuddin ketika menjelaskan ada beberapa tipe dan kepentingan orang yang mengapa mereka peduli sejarah.

Ia harus membahas hal tersebut dikarenakan setiap selesai mengkaji setiap catatan yang ada di nisan-nisan, orang-orang yang hidup di masa tersebut adalah orang-orang yang mengedepankan Islam dalam segala hal.

“Dengan itu, maka ketika kita telah mengetahui tentang kehidupan mereka, maka kita dituntut untuk ikut menanggung beban yang telah mereka wariskan,” katanya berharap supaya generasi Aceh ke depan bisa bangkit sebagai fiqur-figur yang berwawasan dan berguna bagi masyarakat.

Acara tersebut dihadiri anggota Mapesa, beberapa anggota Central Information for Samudra Pasai Haritage (Cisah), dan mahasisawa dari Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry.[]

Penulis: Jamaluddin