SEJARAH Aceh mencatat banyak diplomat ulung. Mereka mampu membangun kerja sama dengan berbagai negara. Termasuk membangun pakta pertahanan dengan Amerika Serikat pada 1873.
Namun, makelar perang dari Eropa memperkeruh suasana. Belanda yang sudah tiga abad menguasai nusantara, melihat Kerajaan Aceh yang masih merdeka sebagai batu sandungan di Selat Malaka. Dominasi Aceh dalam perdagangan rempah-rempah harus dipatahkan dengan aksi militer.
Aceh menyadari, Belanda yang sudah berulang kali membuat provokasi, lambat laun akan menyatakan perang secara terbuka. Dan ini terbukti pada 26 Maret 1873, Komisaris Pemerintah merangkap Wakil Presiden Hindia Belanda, FN Nieuwenhuijzen memproklamirkan perang terhadap Kerajaan Aceh.
Diantara para diplomat Aceh yang termahsyur adalah Habib Abdurrahman Az Zahir sebagai Duta Besar Luar Biasa untuk Turki, Teungku Said Muhammad Abdul Kadir dikirim sebagai duta besar luar biasa untuk Perancis. Sebelumnya juga ada Panglima Nyak Dum duta besar luar biasa ke Turki, Abdul Hamid duta luar biasa untuk Belanda ketika Belanda baru merdeka dari Spanyol. Malah Duta Besar Abdul Hamid meninggal di Belanda pada 9 Agustus 1602 dan dimakamkan dekat Gereja St Pieter di Middelburg, Zeeland.
Namun, sekuat apa pun Aceh mengirim diplomatnya ke berbagai negara, begitu juga kuatnya Belanda untuk merusak reputasi Aceh di mata internasional untuk tujuan penaklukannya.
Di tengah upaya Belanda untuk menaklukkan Aceh itu, Raja Aceh mengutus para diplomatnya ke Singapura. Tim diplomat yang diketuai Syahbandar Pang Tibang ini, menjumpai konsul Amerika Serikat, Italia, dan Perancis di Singapura.
Tim diplomat Aceh ini sudah merancang draf kerja sama pertahanan antara Kerajaan Aceh dengan Amerika Serikat. Konsul Amerika di Singapura, Mayor Studer sudah menyetujui hal tersebut, dan akan mengirimnya ke Amerika untuk mendapat persetujuan Gedung Putih. Armada angkatan laut Amerika yang sedang berada di Laut Cina Selatan akan diarahkan untuk merapat ke Aceh.
Hal itu kemudian diketahui Belanda melalui para broker perang di Singapura, salah satunya Tengku Muhammad Arifin, putra mahkota Moko-moko yang kerajaan ayahnya sudah ditaklukkan Belanda. Arifin pernah minta perlindungan kepada raja Aceh, tapi kemudian balik gagang menjadi mata-mata Belanda di Singapura. Tentang ini bisa dibaca dalam buku Selayang Pandang Langkah Diplomasi Kerajaan Aceh, yang ditulis M Nur El IBrahimy diterbitkan oleh Grasindo, Jakarta, 1993. Bisa juga dibaca dalam buku Atjeh yang ditulis penulis Belanda HC Zentgraaff.
Menyadari langkah diplomat Aceh tersebut, sebelum Amerika bertindak, Belanda mempercepat pengiriman armada perangnya dan memproklamirkan perang terhadap Kerajaan Aceh. Celakanya lagi, Pang Tibang tersandera di Singapura dalam politik Belanda yang dikenal dengan sebutan “membeli kebaikan musuh dengan suapan.” Belanda dengan bantuan Arifin berhasil menekan Pang Tibang untuk membelot. Sebuah pengkhianatan terbesar dalam sejarah Aceh.
Hingga kini terkenal dalam masyarakat Aceh jika seseorang berkhianat terhadap sesuatu, maka langsung dilabeli dengan sebutan “Biek Pang Tibang” alias keturunan Pang Tibang. Peristiwa membelotnya Pang Tibang di Singapura ini, oleh penulis Belanda, HC Zentgraaff dalam buku Atjeh disebut sebagai Het Veraad Van Singapore alias pengkhianatan di Singapura.
Pertanyaannya kemudian muncul, di mana draf dokumen pakta pertahanan antar Aceh dengan Amerika Serikat itu, setelah Aceh terlibat dalam perang dengan Belanda. Keberadaan dokumen itu baru terungkap setelah penelusuran panjang dilakukan oleh sejarawan Aceh, M Nur El Ibrahimy. Hasilnya, muncullah buku Selayang Pandang Langkah Diplomasi Kerajaan Aceh yang saya sebutkan tadi.
Untuk memburu dokumen yang dinamai proposal of Atjeh-Amerika Treaty itu. M Nur El Ibrahimy menggunakan jaringannya di Eropa dan Amerika. Ia memulai pemburuannya pada tahun 1957, setelah membaca tulisan Dr James Warren Gould di majalah Annal of Iowa yang menyingguh dokumen tersebut. Namun informasi dari Dr James Warren Gould itu sangat sedikit, ia hanya menyebut dokumen itu disimpan di State Departement.
Untuk mendapat kejelasannya, pada Mei 1960, M Nur El Ibrahimy terbang ke Amerika, menjumpai Dr James Warren Gould, guru besar di Clearment College, California, penulis buku The American In Sumatera. Keduanya berjumpa di lobi Hollywood Inn, Holliwood Boulevar, Los Anggeles, California.
Bagi M Nur El Ibrahimy, informasi dari Dr James Warren Gould setidaknya sudah menjadi kunci pembuka jalan menuju ke sana, meski butuh waktu lama. Ya, baru pada tahun 1992, untuk menyempurnakan buku Selayang Pandang Langkah Diplomasi Kerajaan Aceh, M Nur El IBrahimy menulis surat kepada State Departement di Washington DC. Surat itu dikirimnya melalui perantara American Culture Center di Jakarta.
Tapi, pihak State Departement Amerika Serikat kemudian membalas bahwa dokumen itu tidak ada pada mereka. Meski demikan M Nur El Ibrahimy tidak putus asa. Ia kemudian menelusurinya ke US National Archives. Dokumen itu akhirnya ditemukan diantara 24 rol mikro-film mengenai peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di Singapura dan Malaysia.
M Nur El Ibrahimy sangat berterimakasih kepada sahabatnya, Miss Betsy Fransk dari Amerika dan para petugas di US National Archivesyang banyak membantunya dalam memburu dokumen sangat bersejarah tersebut.
Dokumen yang belum pernah dipublikasi itu diterima utuh oleh M Nur El Ibrahimy lengkap dengan terjemahannya dalam bahasa Inggris pada 30 Juli 1993, melalui Direktur American Culture Centre. Tentang isi proposal of Atjeh-Amerika Treaty ini akan saya tulis pada postingan selanjutnya.[]Sumber:steemit.com
Penulis: Iskandar Norman






