Senin, Juli 15, 2024

Peringati Hari Bhakti Adhyaksa...

BLANGKEJEREN - Kejaksaan Negeri Kabupaten Gayo Lues kembali menggelar bakti sosial (Baksos) dan...

Kapolres Aceh Utara AKBP...

LHOKSUKON - AKBP Nanang Indra Bakti, S.H., S.I.K., kini resmi mengemban jabatan Kapolres...

Temuan BPK Tahun 2023...

BLANGKEJERN - Badan Pemeriksa Keungan (BPK) Perwakilan Aceh menemukan kelebihan pembayaran pada anggaran...

Pj Bupati Aceh Utara...

ACEH UTARA - Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menerbitkan surat keputusan (SK) tentang...
BerandaTarekat Naqsyabandiah (VI):...

Tarekat Naqsyabandiah (VI): Perjuangan Tarekat Syekh Abdus Samad Al-Plimbani

Salah seorang ulama besar Indonesia yang hidup pada abad ke 18 adalah Syekh Abdus Samad Al-Plimbani. Ayahnya bernama Syekh Abdul Jalil bin Syekh Abdul Wahab dan ibunya bernama Raden Ranti. Beliau dilahirkan di Palembang pada tahun 1704 M/1116 H. Agaknya beliau dididik serta dibesarkan di kota itu. Setelah dewasa dan memiliki ilmu agama yang memadai beliau pergi ke Tanah Suci. Beliau belajar di Makkah dan Madinah serta menetap di sana dan kemudian menjadi ulama yang cukup dikenal orang.[1]

 

Ketika menetap di Mekkah Al-Mukarramah, beliau belajar pada syekh yang sangat terkenal pada waktu itu, di antaranya adalah Muhammad bin Abdul Karim al-Samani, Muhammad Sulaiman al-Kurdi, Abdul Mun’im al-Damanhuri, dan Abdurrahman al-Aydarus yang merupakan guru Tarekat Naqsyabandiyah bagi Abdus Samad al-Plimbani. Setelah beliau belajar di Makkah dan Madinah, beliau kembali ke Palembang untuk mengembangkan ilmunya dan tarekat yang beliau miliki.[2]

 

 Berkat beberapa karyanya yang beredar luas di Nusantara, Syekh Abdus Samad al-Plimbani merupakan sosok yang paling berpengaruh dan menonjol dari beberapa ulama Palembang, hal ini sangat berbeda dengan ulama lain yang hidup sezaman atau periode sebelum beliau. Kehidupan al-Plimbani relatif lengkap dan jelas, hal ini disebabkan oleh informasi yang tersebar dalam karya-karyanya dan dilengkapi dengan riwayat bahasa melayu. Di antara karyanya yang paling terkenal adalah Sair al-Salikin, sewaktu penyelesaian karya ini, beliau berumur 58 tahun, dan setelah itu beliau wafat sekitar tahun 1203 H/1789 M.[3] 

 

Diantara sekian banyak karangan beliau. Ada dua kitab Maha karya Syekh Al-Plimbani yang beredar luas di Nusantara yang erat dikaitkan dengan tulisan-tulisan Al-Ghazali yaitu : Hidayat al-Salikin fi Suluk Maslak al-Muttaqin dan Sair al-Salikin. Kedua karya ini ditulis dalam bahasa Melayu, supaya dimaksudkan agar dibaca para pembaca Melayu-Indonesia yang lebih luas. Kitab Hidayat al-Salikin merupakan terjemahan karya Imam al-Ghazali Bidayat al-Hidayah. Tetapi karya ini lebih tepat diistilahkan sebagai adaptasi dari Bidayat al- Hidayah, sebab menurut al-Plimbani,  beliau menyampaikan beberapa topik dalam karya al-Ghazali dalam bahasa Jawi, sementara pada saat yang sama membuat sejumlah topik tambahan yang sesuai yang tidak diambil darinya.

 

Sedangkan kitab Sair al-Salikin merupakan penjelasan lebih lanjut dari ajaran-ajaran yang terdapat dalam Hidayat al-Salikin, menurut al-Plimbani, Sair al-Salikin merupakan terjemahan Lubab Ihya ’Ulumuddin, yang ditulis oleh saudara laki-laki al-Ghazali, Ahmad bin Muhammad.[4] Syekh Abdus Samad Al-Plimbani merupakan salah seorang ulama yang berpengaruh di Nusantara, melalui karya-karyanya telah berhasil mewariskan  ilmu agama kepada generasi muslim selanjutnya. Nama beliau selalu tercantum di dalam catatan sejarah Islam di Nusantara.

[1] Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII.. , h. 307.

[2] Taufik  Abdullah dkk. Ensiklopedi Tematis …, h. 128.

[3] Taufik  Abdullah dkk. Ensiklopedi Tematis …, h. 129.

[4]Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah h. 342.[]

*Helmi Abu Bakar El-Langkawi, Staf Pengajar di Dayah MUDI Mesjid Raya, Samalanga dan Sekretaris LP2M IAI Al-Aziziyah Samalanga.

Baca juga: