BerandaOpiniTeaching Factory Model Pendidikan SMK

Teaching Factory Model Pendidikan SMK

Populer

Oleh: Edy Saputra, Ketua Aliansi Profesi Teknik Otomotif DPC Aceh.

Sesuai butir amanat pembukaan undang undang dasar 1945 hal mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal itu diatur melalui Peraturan Pemerintah nomor 29 tahun 1990 Pasal 29 ayat 2. Isinya, menyiapkan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menjadi tenaga kerja dapat didirikan unit produksi yang beroperasi secara professional.

Bidang tersebut merupakan unit pelayanan SMK bagi perekonomian masyarakat berupa produk barang maupun jasa serta menjadikan kegiatan praktik nyata bagi peserta didik.

Selanjutnya, Undang Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional; menetapkan Standar Nasional Pendidikan (SNP) sebagai acuan dalam rangka mencapai berbagai tujuan pendidikan.

Sebagai tindak lanjut, dikeluarkan Intruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 34 Tahun 2018 tentang Standar Nasional Pendidikan SMK sebagai pedoman kinerja rencana pengembangan pendidikan SMK.

Di dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 34 Tahun 2018, disebutkan aspek kurikulum pendidikan yang terdiri dari:

  1. Standar kompetensi lulusan mengacu pada kerangka kualifikasi nasional indonesia, atau kualifikasi internasional
  2. Standar isi merupakan elemen kompetensi dan capaian pembelajaran dari kerangka kualifikasi
  3. Standar prosesmerupakan alur pelaksanaan pembelajaran untuk mencapai kerangka kualifikasi
  4. Standar penilaian merupakan perangkat materi uji kompetensi untuk mengukur hasil pembelajaran peserta didik.

Aspek pelaksanaan kurikulum yang terdiri dari:

  1. Standar guru dan tenaga pendidikan yang di upayakan oleh pemerintah
  2. Standar sarana dan prasarana yang ditingkatkan oleh pemerintah
  3. Standar pengelolaan sebagai pedoman alur kerjapendidikan smk
  4. Standar pembiayaan tertuang dalam dokumen rencana kerja anggaran pendidikan.

Sejalan dengan terus meningkatnya kebutuhan Kualifikasi Kompetensi tenaga kerja, upaya alih teknologi (technology effort) ke dalam pendidikan vokasi/SMK dan pelatihan vokasi. Hal tersebut dapat dilakukan melalui model pembelajaran praktik dan juga praktik nyata.

Semuanya dengan mengintegrasikan standardisasi (aspek mutu), operasional (pedoman pelaksanaan) dan prosedur (alur kegiatan) berbasis pabrikan/manufactur/industry yang disebut model Teaching Factory.

Teaching Factory menjadi model pembelajaran dari standar proses pendidikan vokasi (SMK) dan merupakan bahagian yang tidak terpisahkan dari standar nasional pendidikan.

Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan out put dan out come dari suatu model teaching factory harus dimulai pada tersedianya kurikulum terintegritas kebutuhan pasar kerja dan potensi wilayah.

Pengintegrasian tersebut sebagai acuan terhadap pemenuhan kwalitas dan kwantitas pendidik dan tenaga kependidikan, kapasitas sarana dan prasarana, pola pengelolaan serta aspek pembiayaan.

Konsekuensi positif dari pelaksanaan teaching factory di SMK adalah tersedianya lulusan SMK yang memiliki kualifikasi kompetensi diri berdaya saing menuju pasar kerja.

Di sisi lain, mereka diharapkan menjadi core business secara financial dengan menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan BLU atau BLUD guna mendukung operasional pembiayaan menuju SMK mandiri.[]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita terkait

Berita lainya