Senin, Juni 24, 2024

HUT Ke-50 Aceh Tenggara,...

KUTACANE - Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Aceh Tenggara membuka stan pelayanan...

Atlet KONI Aceh Rebut...

BANDA ACEH - Prestasi mengesankan ditoreh atlet binaan KONI Aceh yang dipersiapkan untuk...

Realisasi Pendapatan Asli Aceh...

BANDA ACEH - Realisasi Pendapatan Asli Aceh (PAA) tahun 2019-2023 melampaui target. Akan...

Judi Online: Antara Frustasi...

Oleh: Muhammad Syahrial Razali Ibrahim, Dosen Fakultas Syariah IAIN LhokseumawePemberitaan judi online akhir-akhir...
BerandaBerita Aceh Utara'Nasib Petani Harus...

‘Nasib Petani Harus Dipikirkan Selama Bendung Krueng Pase Belum Mengairi Sawah’

Erawati, salah satu dari ribuan petani terdampak mangkraknya Rehabilitasi Bendung Krueng Pase menuntut dua hal kepada pemerintah. Proyek itu segera dilanjutkan sampai selesai, dan nasib petani harus dipikirkan selama air belum mengalir ke sawah.

Sawah di Gampong Meunasah Me, Kecamatan Meurah Mulia, Aceh Utara, kini menjadi padang rumput. Para petani desa itu tidak menanam padi lantaran sawahnya kekeringan. Kondisi sama di desa-desa lainnya dalam Kecamatan Meurah Mulia.

Kekeringan juga melanda persawahan di Kecamatan Nibong, Syamtalira Bayu, Samudera, Tanah Luas, Tanah Pasir, Syamtalira Aron, Matangkuli Kabupaten Aceh Utara, dan Kecamatan Blang Mangat Kota Lhokseumawe.

Sawah 8.922 hektare terhampar di sembilan kecamatan itu bergantung pada suplai air dari Bendung Krueng Pase di Gampong Leubok Tuwe, Kecamatan Meurah Mulia, berbatasan dengan Desa Maddi, Kecamatan Nibong. Bendung tua yang dibangun tahun 1940 itu jebol akibat diterjang banjir pada pengujung tahun 2020.

Pemerintah menganggarkan lebih Rp44,8 miliar dalam APBN 2021 untuk Rehabilitasi Daerah Irigasi Krueng Pase. Celakanya, kontraktor pemenang tender proyek itu hanya mampu menyelesaikan pekerjaan sekitar 35 persen sampai kontrak berakhir pada Desember 2022. Proyek tersebut mangkrak sejak Januari 2023 sampai sekarang.

Dampaknya, ribuan petani di sembilan kecamatan tidak bisa menggarap sawahnya secara normal. Krisis pangan mulai mengintai mereka. “Sawah kekeringan sudah cukup lama, hampir tiga tahun. Sebelumnya tidak pernah terjadi seperti ini,” kata Khatijah, petani di Gampong Drien Puntong, Kecamatan Meurah Mulia, ditemui portalsatu.com, Kamis, 27 Juli 2023.

Sebelum Bendung Krueng Pase jebol, Khatijah menggarap sepetak sawah gadai—karena ia tidak punya sawah sendiri—dua kali dalam setahun. “Dulu, saya dapat sekitar 17 karung sekali musim panen. Sekarang kalau mau tanam padi harus tunggu musim hujan, tapi tidak maksimal. Bahkan bisa gagal panen kalau tiba-tiba kemarau, sawah kekeringan lagi, dampaknya rugi,” ujarnya.

Dia pun mulai membeli beras di pasar dengan harga berkisar Rp175 ribu-Rp185 ribu persak 15 kg, tergantung kualitas beras. “Dulu cukup jarang beli beras,” ucap Khatijah.

Erawati, petani di Gampong Meunasah Mesjid, Kecamatan Meurah Mulia, belakangan ini juga harus membeli beras di pasar. Dia memiliki empat petak sawah yang tidak dapat digarap secara normal sejak Bendung Krueng Pase rusak parah.

“Dari empat petak sawah, satu petak sempat kami tanami padi dengan sumber air tadah hujan pada awal 2023. Hasil panen anjlok, cuma lima karung padi,” ujar Erawati.

Menurut Erawati, Bendung Krueng Pase pernah jebol pada 2008. Namun, kerusakan bendung irigasi saat itu bisa tertangani tanpa memakan waktu lama. “Setelah jebol tahun 2022, proses perbaikannya cukup lama dan sekarang mangkrak, sehingga petani yang rugi, bahkan ada warga yang terutang untuk beli beras,” ungkapnya.

***

Rehabilitasi Bendung Daerah Irigasi Krueng Pase di bawah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Kementerian PUPR melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I telah memutuskan kontrak dengan kontraktor pelaksana proyek itu, PT Rudy Jasa asal Surabaya.

“Kontraknya memang sudah diputus. Progres (pekerjaan) 35,67 persen. Saat ini sedang dilakukan perhitungan cut off oleh BPKP. Itukan jadi pedoman kita untuk kelanjutan pekerjaan ke depan,” kata Kepala BWS Sumatera I, Heru Setiawan, kepada portalsatu.com, Selasa, 25 Juli 2023.

Perhitungan cut off atau audit dilakukan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Aceh atas permintaan BWS Sumatera I untuk mengetahui nilai hasil pekerjaan yang sudah direalisasikan PT Rudy Jaya.

“BPKP sudah diminta untuk melakukan audit, dan baru saja selesai (penilaian di) lapangan. Saat ini proses penyusunan laporan. Seperti biasa, setelah laporan disusun maka akan dilanjutkan dengan reviu berjenjang dari tim, kemudian atasan langsung (dari tim itu), dan terakhir di saya,” kata Kepala BPKP Perwakilan Aceh, Supriyadi, Selasa (25/7).

Menurut Supriyadi, jika dokumen lengkap dan sudah mendukung laporan, diperkirakan seminggu atau dua minggu akan selesai proses reviu. Setelah itu baru diserahkan hasil audit kepada BWS Sumatera I.

BWS Sumatera I, kata Heru, akan lebih berhati-hati dalam menentukan rekanan baru untuk melanjutkan proyek tersebut setelah menerima hasil audit dari BPKP nantinya. Heru memohon dukungan pemerintah daerah dan masyarakat Aceh Utara. “Karena kita tidak bisa bekerja sendiri, kita harus koordinasi. Karena dengan putusnya kontrak, untuk melanjutkan kita perlu hati-hati. (Proyek itu) tetap menjadi perhatian kita,” ucapnya.

***

Erawati, Khatijah, dan petani lainnya mendukung pemerintah melanjutkan Rehabilitasi Bendung Krueng Pase sampai selesai. Namun, mereka berharap pemerintah juga memikirkan nasib para petani selama proses perbaikan bendung irigasi tersebut yang sudah memakan waktu bertahun-tahun.

“Kami sebagai petani hanya bisa berharap agar pemerintah benar-benar memikirkan solusi terbaik untuk sumber air ke sawah. Perbaikan irigasi besar itu memang harus dilanjutkan, tapi bagaimana caranya jangan sampai petani menunggu cukup lama. Maksudnya, proyek itu bisa berjalan, tapi nasib para petani pun harus dipikirkan,” ujar Erawati.[]

Baca juga: