Kamis, Juli 25, 2024

Spanduk Dukungan Bustami Maju...

LHOKSEUMAWE - Sejumlah spanduk berisi dukungan kepada Bustami Hamzah untuk mencalonkan diri sebagai...

Yayasan Geutanyoe Rayakan Hari...

LHOKSEUMAWE - Yayasan Geutanyoe merayakan Hari Anak Nasional tahun 2024 bersama 227 anak...

Hendry Ch Bangun Tanggapi...

JAKARTA - Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Hendry Ch Bangun menegaskan,...

Puluhan Personel Polres Aceh...

LHOKSUKON - Polres Aceh Utara melakukan tes narkoba melalui metode tes urine menggunakan...
BerandaTenaga Kesehatan Perlu...

Tenaga Kesehatan Perlu Ambil Peran Menghadapi Bonus Demografi

BANDA ACEH – Fenomena Bonus Demografi di Indonesia yang akan dihadapi mulai 2020 membuat pemerintah mulai memberlakukan kebijakan-kebijakan strategis guna mempersiapkan sumber daya manusia yang lebih baik.

Kebijakan-kebijakan tersebut tidak dapat dilaksanakan secara terpadu tanpa dukungan dari semua pihak, khususnya tenaga kesehatan. Semua itu dilakukan agar fenomena bonus demografi tersebut tidak malah memberikan bencana bagi bangsa ini.

Hal itu mengemuka dalam diskusi panel yang dibuat HMI Komisariat FK Unsyiah, bekerja sama dengan BKKBN Provinsi Aceh di Auditorium FK Unsyiah, Jumat, 4 November 2016.

Diskusi ini menghadirkan empat pembicara yaitu dr. M. Yani M.Kes selaku Ketua Perwakilan BKKBN Provinsi Aceh, anggota Komisi IX DPR RI Teungku Khaidir Abdurrahman, wakil dari Dinas Kesehatan Aceh Fadhilah, dan Dekan FK Unsyiah dr. Maimun Syukri.

Ketua panitia acara Muyasir Saifullah mengatakan, diskusi panel bertajuk “Potensi dan Tantangan Tenaga Kesehatan Dalam Menghadapi Bonus Demografi 2020” ini bertujuan untuk membentuk landasan berpikir bagi tenaga kesehatan di Aceh.

“Agar mampu bersaing secara global, dan harus mempersiapkan diri semenjak sekarang. Karena jika tidak,maka siap-siap bangsa Indonesia umumnya dan Aceh khususnya akan merasakan kesenjangan sosial yang luar biasa, akibat banyaknya tenaga kerja yang tidak dapat ditampung oleh lapangan pekerjaan,” katanya melalui siaran pers.

Lebih lanjut, Zainur Hafiz selaku Ketua Umum HMI Komisariat FK Unsyiah mengatakan, HMI sebagai organisasi mahasiswa yang dari awal terbentuknya telah menanamkan sifat-sifat intelektualitas bagi para kadernya, terus mendorong para akademisi untuk menambah pengetahuan dan keterampilan yang ada.

“Maka pada hari ini, kita mengadakan diskusi ini untuk menyadarkan masyarakat khususnya tenaga kesehatan Aceh, bahwa kita tidak semestinya berdiam diri, kita harus mampu bergerak melawan arus, tingkatkan etos kerja dan pengetahuan, serta maksimalkan skill yang telah ada. Maka dengan hal itulah, kita akan dapat bersaing dalam persaingan global,” ujarnya.

Apalagi pada tahun 2017 ini kata Zainur, akan masuk berbagai tenaga kesehatan dari negara lain. “Apakah kita mampu untuk menjadi pemenang dalam persaingan tersebut, atau hanya menjadi tamu di rumahnya sendiri? Hanya individu masing-masinglah yang dapat menjawabnya.”

Acara diskusi panel ini dihadiri oleh ratusan tenaga kesehatan Aceh, yang terdiri dari mahasiswa kedokteran, keperawatan, farmasi, kebidanan, analis kesehatan, serta lintas profesi kesehatan, seperti dokter, perawat, bidan, dan profesi kesehatan lainnya. Acara ini juga diselingi oleh dibukanya forum diskusi bernama “Medical Coaching Clinic by HMI (MEDICOACHMI)” dan promosi Komunikasi Edukasi dan Informasi (KIE) kreatif oleh BKKBN Aceh.[]

Baca juga: