MINA – Isu penambahan kuota jemaah haji kembali muncul seiring akan berakhirnya penyelenggaraan haji tahun 2017. Penambahan kuota jemaah bisa saja didapat, tapi itu tetap memiliki konsekuensi.
Menurut Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, penambahan kuota jemaah haji tanpa didahului penataan infrastruktur di Mina, justru akan menimbulkan permasalahan tersendiri.
“Jadi penambahan kuota harus didahului dengan penyiapan dan penyediaan infrastruktur yang memadai,” ujar menag usai memimpin rapat evaluasi penyelenggaraan haji antara delegasi Amirul Hajj dan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi di Jeddah, Sabtu malam 9 September 2017.
Seperti diketahui, kuota jemaah haji Indonesia bertambah hingga 52.200 orang jika dibanding tahun sebelumnya. Menurut menag, dengan penambahan kuota lebih dari 220 ribu, kondisi di Mina cukup memprihatikan.
Tenda yang ada tidak sesuai dengan jumlah jemaah. Akibatnya, jemaah harus berdesakan saat beristirahat. Selain itu, toilet yang terbatas menyebabkan antrean sepanjang hari.
“Kalau infrastruktur, tenda dan toilet tidak ditambah, maka menambah jemaah menurut saya justru akan menimbulkan persoalan serius,” katanya.
Sehubungan dengan itu, menag meminta agar penambahan kuota tidak menjadi isu utama pada penyelenggaraan haji. Tapi, penyiapan kapasitas daya tampung tenda dan toilet di Mina yang menjadi fokus utama pada penyelenggaraan haji 2018.
Karena itu, prioritas yang akan dilakukan pemerintah adalah mencoba meyakinkan pemerintah Arab Saudi agar Mina ditata lebih baik.
“Kita ingin berjuang secara optimal agar Pemerintah Saudi dapat meningkatkan kapasitas dan daya tampung tenda yang ada di Mina. Juga toiletnya, sehingga tidak menimbulkan persoalan serius bagi keselamatan jemaah. Bahkan bisa mewujudkan kenyamanan bagi jemaah,” ujarnya.
Menag menambahkan, bila peningkatan infrastruktur bisa dilakukan, maka dengan penambahan kuota tidak akan muncul persoalan baru.
Selain itu, menag akan meminta pihak Muassasah untuk menata ulang penempatan jemaah haji furoda (non kuota). Menurutnya, penempatan jemaah haji furoda yang bercampur dengan jemaah reguler harus dihindari.
“Jadi ke depan kita harus belajar dari pengalaman tahun ini. Jemaah furoda harusnya tidak bercampur dengan jemaah reguler haji kita,” ujarnya.[]Sumber:viva




