Oleh Taufik Sentana
Peminat kajian sosial dan budaya pop.
Lirik dan lagu “Aisyah ” yang sempat viral dan masih banyak dicover oleh artis dan youtuber domestik, masih menjadi perbincangan di jagat maya.
Bahkan dalam opini portalsatu sempat diulas juga lirik tersebut dan kaitannya dengan feminisme (paham _isme_ yang jelas bertolak belakang dengan Islam).
Ulasan sisi feminimisme di atas seakan mendukung agar lirik lagu tersebut tampil apa adanya, tanpa ada gubahan etik tertentu. Sebab gubahan itu sekan menunjukkan sikap hegemoni laki laki terhadap perempuan.
Padahal kita tahu, kedudukan Sayyidah (baca: Siti) Aisyah RA tidak sama dengan wanita mukmin lainnya, Ia bahkan sebagai Ibunya kaum mukmin. Sehingga apapun persepsi kita tentang Aisyah R A mesti melampaui paham apapun.
Maka dalam berkaitan dua kutub persepsi seni ini, Ust Abd. Somad menengarai bahwa kedua model lirik yang dimaksud tidak bisa disalahkan mutlak.
Menurutnya, lirik pertama, terasa sangat terbuka dan jujur apa adanya, serta tidak ada yang salah dari segi faktanya. Tentang bagaimana Nabi kita bermanja dan bersikap romantis dengan Siti Aisyah RA. Ini adalah khas milienial, seakan-akan akak saya menjelaskan tentang Siti Aisyah RA kepada anaknya dengan bahasa yang mudah dicerna oleh sang anak.
Namun, lanjut UAS, sementara sang nenek melihat bahwa cara pemyampaian seperti itu tidak pantas, sehingga perlu mempertimbangkan gubahan etik-moral dalam liriknya.
Maka kita memandangnya positif saja. Asalkan keduanya saling memahami dan berlapang dada. “kalaulah bukan karena sifat saling mendukung dalam kebaikan, pastilah kehidupan kita akan rusak” kutip UAS dalam satu ayat.
Artimya, lanjut UAS, kaum milenial silahkan terus berseni dengan bahasa kaumnya yang relevan (sarat pertimbangan) karena dengan medium ini kita akan semakin mengenal siapa saja sosok sosok mulia yang pernah bersama Rasulullah Muhammad SAW.[]




