TANPA terasa kita sudah berada kembali di bulan Maulid, bulan Rabiul Awwal yang menjadi bulan lahirnya Nabi Muhammad SAW menurut jumhur ulama tarikh.
Khusus di Aceh, biasanya perayaan maulid Nabi berlangsung hingga tiga atau empat bulan ke depan, dengan beragam bentuk dan karakteristiknya.
Menurut salah seorang Dosen di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Teungku Dirundeng Meulaboh, Ust. Surianto Sudirman,Lc., MA, dengan mengutip pendapat Imam Nawawi, Imam Syuyuthi dan Ibnu Hajar, ia mengakatan bahwa tidak ada masalah dengan perayaan Maulid Nabi.
“Boleh boleh saja. Walaupun diketahui tradisi ini mulai muncul setelah tiga ratus tahun kenabiaan Muhammad SAW. Dan jelas ini memang “bidah” secara bahasa, secara bahasa ya, bukan hukum umumnya,” katanya.
Kemudian ia menambahkan, selama materi kegiatannya tidak bertentangan dengan kaidah syara' maka silahkan saja. Ulama membatasi isi kegiatan tersebut antara lain, membaca Alquran, menyampaikan kisah perjuangan Nabi Muhammad SAW, berzikir dan berdoa.
Surianto yang juga Pembina Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Aceh Barat, mengatakan,
perayaan maulid Nabi yang lazim dikerjakan, di antaranya berdasarkan qiyas (analogi) Imam Ibnu Hajar, dari Hadis tentang kaum Yahudi yang bersyukur (dengan puasa) atas selamatnya Nabi Musa dari kejaran Firaun pada 10 Muharram. Artinya, bila selamatnya Nabi Musa saja pantas disyukuri, apalagi dengan lahirnya Nabi Muhammad sebagai Rahmat sekalian alam.
Pada bagian akhir pandangannya, Alumni Al Azhar Kairo ini, mengingatkan bahwa, di antara esensi terpenting dari perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah, memelihara shalat dan menjaga kualitas shalat kita, terutama mengupayakan shalat berjamaah, sebab dalam masa sahabat, ketidakhadiran dalam jamaah shalat sebagai indikasi kemunafikan, na'uzubillah.
“Kita ingin, gegap gempita maulid ini samalah meriah dan ramainya dengan jamaah di masjid saat shalat lima waktu,” kata Surianto.
Penulis: Taufik Sentana, staf Ikadi Aceh Barat.



