Karya Taufik Sentana*
Ini bukan sebuah kaidah
namun semacam isyarat teknis
bagi yang menempuh jalan suluk,
jalan penyucian diri.
Barat menyebutnya sebagai jalan spiritualitas dan mistisme. Jalan ini sangat mungkin penuh subjektifitas kecuali dengan referensi yang banyak dan valid. Sebab mengakui kebenaran sendiri bisa menghancurkan jalan yang sedang ditempuh.
Kembali ke poin awal, sepatah kata “asyik” yang sering kita lafazkan dan akrab dalam keseharian, ternyata ianya merupakan ekstase dan candu dalam khazanah kesufian.
Kata “asyik” itu bisa seakar dengan kata isyqun, rindu, dorongan kesenangan dalam perjumpaan dan tenggelam dalam kesenangan itu sendiri.
Disini ” asyik” menjadi kata teknis bagi penempuh jalan untuk mencapai maqam kedirian sang hamba.Si hamba berpindah dari satu keasyikan menuju keasyikan yang lebih menggairahkan, saat hati telah penuh oleh hadirNya.
Hal “asyik” itu didapat dalam cumbuan ketaatan, rahasia bersunyi, kehalusan budi dan taabbud.
Rasa “asyik” itu muncul saat hati terlepas dari ikatan materi yang melalaikan dari mengingat Si yang Dirindui_Zat yang Menyebabkan keasyikan itu terjadi_
Jadi sejatinya, asyik adalah terminologi yang indah. Terminal bagi jejak-tapak pencarian ke Yang Hakiki.
Semoga keasyikan kita sampai pada level muhsinin dan muqarrabin. Bukan keasyikan semu yang menempel pada iklan iklan layar kaca dan kemeriahan budaya pop yang melenakan.[]
*Peminat sastra sufistik




