Oleh: Taufik Sentana*

Dunia adalah perempuan jelita
yang memesona tapi terpandang hina.
Kebaikannya hanya sesayap nyamuk saja. Itulah puncak perburuan dan kenikmatan yang dengannya kita berlomba.

Sesayap nyamuk itu, perempuan jelita yang hina itu, telah mendorong gairah dan harap sesiapa saja, hingga membutakan makna di baliknya. Adapun panggung tamsilnya adalah permainan dan senda gurau, kisah yang segera selesai dengan segenap akibatnya.

Kenapa bisa hati ini tertawan olehnya?
Ialah karena  kenikmatannya adalah saudara kembar bagi hati siapapun, kecuali hati yang Dirahmati celupan ilahi.
Hati yang tersibak tirai keabadian: Maka jangan biarkan hatimu tertawan kesementaraan.[]

*Penyuka prosa sufistik