PEUREULAK – Nama Teuku Mail mulai dikenal di dunia entertainment sejak ia mendapat tawaran bermain dalam film di Jakarta dan dipasarkan di Aceh tahun 2017. Film tersebut berjudul Keude Kupi NAD. Jauh sebelumnya, pemuda bernama asli Ismail itu menjadi seorang content creator sejak duduk di bangku kelas I MTsN.
“Semasa masih di MTsN, saya membuat video-video komedi durasi pendek dan saya upload ke akun Facebook dan YouTube. Dalam menggeluti semua ini, guru saya yang paling berjasa adalah YouTube, karena saya belajar semua tentang video, editing dan lainnya itu semua dari YouTube. Dulu saya bisa menghabiskan uang Rp10 ribu hingga Rp20 ribu setiap malamnya untuk ke warung internet (warnet) hanya untuk belajar mengedit video di YouTube. Saat itu saya belum punya laptop untuk mengedit video,” ujar Teuku Mail kepada portalsatu.com/, Kamis, 21 Juni 2018.
Pemuda kelahiran Peureulak, Aceh Timur, 21 Juni 1994 silam, itu merupakan anak ketiga dari lima bersaudara. Ia anak dari pasangan suami istri Armiadi dan Faridah.
Perjuangannya menjadi salah seorang YouTuber yang diperhitungkan di Aceh tidaklah mudah. Teman-temannya bahkan sempat mengejek dan mengatakan, “Pu kah ka pungoe (apakah kamu sudah gila)”, atau “Ka peu pungoe-pungoe droe ju ikah”.
“Mereka yang dulunya mengejek dan mencela, alhamdulillah, kini malah banyak yang minta collab vidgram dan minta diajak jika saya buat video. Saya sudah membuktikan kepada orang-orang yang dulunya mencemooh, bahwa apa yang saya lakukan dulu telah membuahkan hasil. Bahkan sekarang saya sudah bisa main film dan lainnya,” ucap Mail tertawa.
Salah satu pencapaian yang paling berkesan hingga saat ini, kata Mail, saat dirinya mendapat undangan dari Rajawali Televisi (RTV) setelah lolos 20 besar dalam acara DCODE the progressive project. Mail diundang sebagai seorang YouTuber asal Aceh ke Jakarta untuk mendapat mentoring dari YouTuber andal, seperti Edho Zell dan juga Atta Halilintar, serta sharing bersama YouTuber lainnya.
“Menjadi seorang YouTuber Aceh atau komedian Aceh banyak sekali rintangan dan tantangannya. Tantangannya, kita harus banyak bersabar menghadapi sikap atau komentar negatif dari sebagian orang Aceh itu sendiri yang masih awam mengenai hal tersebut,” kata Mail.
Bagi Mail, menjadi seorang YouTuber Aceh yang menggunakan bahasa Aceh dalam videonya merupakan suatu kebangaan tersendiri. “Ini tugas saya sebagai orang Aceh. Di sini saya dapat memperkenalkan bahasa Aceh ke luar daerah melalui video-video saya. Di mana zaman sekarang bahasa Aceh sudah jarang dipakai oleh anak-anak muda Aceh sendiri dalam berkomunikasi sehari-hari, seakan mereka malu untuk berbicara bahasa Aceh. Padahal bahasa Aceh adalah bahasa indatu yang patut dilestarikan agar tidak punah,” ungkap Mail.
Mail berpesan, “Janganlah malu berbahasa Aceh. Saya khawatir, nanti anak cucu kita tidak ada lagi yang bisa berbahasa Aceh. Maka dari itu saya sangat bangga menggunakan bahasa Aceh di dalam video-video saya supaya nanti anak cucu kita masih bisa mendengarkan atau melihat video-video bahasa Aceh di sosial media.”
Mail biasa meng-upload videonya melalui akun Instagram @teuku_mail, dan channel YouTube teuku mail. “Saya sudah mem-posting video di YouTube sebanyak 115 video, dan video yang paling banyak di tonton di channel YouTube saya yaitu parodi lagu “Ka Icah”. Lihat video Ka Icah.
“Ide-ide video biasanya saya dapat dari pengalaman pribadi saya dan juga pengalaman teman-teman. Hal yang sering terjadi sehari-hari dan kemudian saya angkat ke video lucu. Dalam membuat video, dulu sendiri dan dibantu alat tripod. Allhamdulillah, sekarang untuk shoot saya dibantu teman, editing saya lebih memilih untuk mengedit sendiri. Tak jarang saya membuat video sendiri dan edit sendiri juga,” pungkas Teuku Mail.[]




