“Mesti yang ditonjolkan pada PKA tahun ini adalah produk-produk budaya Aceh yang sesungguhnya, baik kesenian seperti rapa-i, seudati, saman dan sebagainya, maupun naskah-naskah manuskrip kuno Aceh,” paparnya.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Fraksi Partai Aceh (PA), Tgk. M. Yunus ikut memberi pandangan terkait akan digelarnya Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) VIII pada tahun ini.

Menurut anggota Komisi VI DPR Aceh itu, Pekan Kebudayaan Aceh pada dasarnya harus benar-benar menampilkan produk-produk kebudayaan Aceh yang sebenarnya (original/otentik).

Hal itu disampaikan pria yang akrab disapa Abon Yunoh itu ketika ditemui portalsatu.com/, 20 Februari 2023, di Banda Aceh.

“PKA jangan hanya seperti pameran. Yang kita lihat hanya seperti pasar malam semata,” katanya.

Ia menuturkan, PKA harus menjadi wadah Kebudayaan Aceh seutuhnya. Di mana, semua masyarakat Aceh merasa terwakili dan merasa memiliki hak atas pagelaran Pekan Kebudayaan empat tahunan ini.

“Mesti yang ditonjolkan pada PKA tahun ini adalah produk-produk budaya Aceh yang sesungguhnya, baik kesenian seperti rapa-i, seudati, saman dan sebagainya, maupun naskah-naskah manuskrip kuno Aceh,” paparnya.

Jangan Terkesan Seperti Pasar Malam

Abon Yunoh menyebutkan, Khazanah sejarah dalam perjalanan peradaban Aceh merupakan kekayaan sesungguhnya yang dimiliki oleh Aceh dari masa lampau dengan hari ini.

Ia berharap, PKA tahun ini tak terkesan seperti pasar malam, tetapi harus betul-betul acara kebudayaan. Sebab, dalam hal kebudayaan, Aceh memiliki dan menyimpan banyak hal selama perjalan panjang sejarah Aceh.

“Satu sisi, gunanya PKA ini menjadi media pengetahuan dan edukasi bagi generasi Aceh hari ini dan masa akan datang,” jelasnya.

Ia menguraikan, pentingnya Pekan Kebudayaan Aceh ini, tidaklah menjadi ajang seremonial semata. Namun, bagaimana dapat mengembalikan nilai luhur kebudayaan Aceh yang pernah megah, mewah, perkasa dan gemilang.

Apresiasi Kepada Pewaris dan Pelaku Budaya

Sejauh ini, kata Abon Yunoh, masih sangat jarang dan langka upaya apresiasi kepada para pakar kebudayaan, pewaris dan pegiat budaya, yang tanpa disadari mereka telah menjaga nilai luhur kebudayaan tanpa mengharap imbalan dari pihak manapun.

“Sangat penting, kita berikan apresiasi kepada para pakar, pewaris dan pegiat budaya yang selama ini masih berjuang melestarikan kebudayaan Aceh yang hendak digerus zaman,” terangnya.

Para pewaris dan pegiat yang dimaksud, kata Abon Yunoh, adalah mereka yang peduli, masih menjaga, melestarikan produk-produk kebudayaan Aceh.

“Tentu mereka yang peduli pada karya-karya (manuskrip) dan makam-makam para raja dan ulama Aceh terdahulu maupun yang masih melestarikan seni-seni tradisional Aceh sebagai media dakwah,” ucapnya.

Di samping itu, Abon Yunoh meminta pemerintah Aceh ataupun dinas terkait, dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh untuk dapat menampung masukan dan saran dari semua elemen dalam persiapan PKA VIII nantinya.

Hal itu, tambanya, penting diterima dan dilakukan oleh Disbudpar Aceh, supaya pagelaran PKA nanti benar-benar menjadi even kebudayaan Aceh yang sesungguhnya.

Konsep Harus Benar-Benar Matang

Lebih lanjut Abon Yunoh mengatakan, sebelum PKA digelar, konsepnya harus benar-benar telah rampung dan matang. Mengingat, PKA bukanlah seperti pasar, tetapi even kebudayaan.

Jadi, sebutnya lagi, PKA ini mesti menjadi wadah atau panggung rakyat Aceh dalam mengekspresikan diri. Menampilkan nilai-nilai budaya Aceh yang diwarisi untuk ditunjukkan kepada para pengunjung

“Baik masyarakat Aceh maupun tamu dari luar Aceh harus dapat merasakan atau menemukan sesuatu yang mahal dan berharga dalam perhelatan PKA,” tandasnya.

Ia juga mengatakan, akan mendukung penuh pagelaran PKA VIII, di mana pekan kebudayaan Aceh ini menjadi media refleksi rakyat Aceh untuk melihat masa lalu Aceh yang begitu kaya dan jaya.

“Kita berharap, PKA tahun ini menjadi suatu pekan kebudayaan yang luar biasa,” timpalnya.

Abon Yunus juga mengatakan, diri begitu optimis dan percaya, di bawah Almuniza Kamal, PKA tahun ini akan berjalan sukses dan meriah. Sebab, sejauh ini, Disbudpar Aceh telah melakukan banyak audiensi dengan berbagai pihak demi kelancaran pelaksanaan PKA.

“Bahkan, Almuniza telah melakukan audiensi dengan Wali Nanggroe Aceh, Paduka Yang Mulia Malek Mahmud Al-Haytar,” terangnya.

Dengan demikian, sambung Abon Yunoh, dirinya akan terus memberikan dukungan kepada Disbudpar untuk suksesnya pergelaran PKA tahun ini.

Sebelumnya, beberapa budayawan Aceh telah memberikan pandangan terkait PKA dengan ragam sudut pandang dan tawaran gagasan, ketika ditemui Portalsatu beberapa waktu yang lalu. Di antaranya, Nab Bahany, Ari Pahlawi dan Tarmizi Abdul Hamid.

Ketiganya telah memberikan pandangan beragam, juga menawarkan gagasan-gagasan terkait PKA yang akan dilaksanakan pada Agustus mendatang. Guna untuk kesuksesan pekan kebudayaan Aceh tersebut.

Sekadar diketahui, Pekan Kebudayaan Aceh atau disingkat dengan PKA merupakan even kebudayaan terbesar di Aceh. PKA digelar selama 4 tahun sekali. Tahun ini, even kebudayaan itu akan dilaksanakan kembali.

Pasang surut pergelaran PKA sampai kini masih menjadi suatu hal yang serius dibicarakan berbagai elemen, khusus para pakar dan pewaris budaya yang tentunya punya pandangan tersendiri terkait kebudayaan Aceh.

Kebudayaan, adalah sesuatu yang sifatnya universal. Maka, apapun yang berkaitan dengannya dapat disebut sebagai produk budaya. Di antaranya, sastra, sejarah, situs-situs lama, teknologi tradisional dan sebagainya.

PKA Aceh, pertama sekali diselenggarakan pada 1958. ketika itu ide penyelenggaraan acara PKA ini diilhami oleh kesadaran tokoh-tokoh Aceh, saat itu pentingnya penyelesaian sesuatu melalui pendekatan budaya.

Rentang perjalanannya, PKA selalu menjadi harapan bagi semua elemen masyarakat. Pesta empat tahunan itu, tentu menjadi nadi unjuk jati. Semua produk-produk budaya Aceh ditampilkan, di pagelaran terbesar Aceh tersebut.

Tahun 2023 ini, PKA telah masuk ke yang delapan kali, pun akan digelar pada bulan Agustus mendatang. Berkaitan dengan akan digelar PKA VIII ini, beberapa pakar kebudayaan Aceh ikut memberi pandangan. Tentu pula menawarkan saran-saran supaya PKA berjalan dengan apa yang diharapkan, pada role yang sebenarnya.[]

Penulis: Adam Zainal
Editor: Thayeb Loh Angen.