LHOKSUKON – Kepala Dinas Kesehatan Aceh Utara, dr. Machrozal memastikan bahwa tiga bocah yang lumpuh di Kecamatan Lapang bukan diakibatkan penyakit polio. Kemungkinan besar ada gangguan di saraf, terlebih Saini Mubarak, 6 tahun, yang pernah terjatuh dari ayunan. Namun demikian, pihaknya akan membawa ketiga bocah itu untuk melakukan fisioterapi rutin ke RSUD Cut Mutia, mengingat masih ada harapan.

“Dari data yang ada, riwayat penyakit keduanya (Saini dan Mirza) hampir sama. Namun bisa kita pastikan ini bukan penyakit polio, bukan lumpuh layu mendadak. Karena imunisasi dasarnya lengkap semua, si ibu membawanya ke Posyandu. Abangnya, Saini, ada riwayat trauma jatuh dari ayunan, jadi kemungkinan ada gangguan pada saraf. Terkait penyakit seperti ini, ada 12 jenis lumpuh selain akibat polio,” ungkap dr. Machrozal saat ditemui portalsatu.com/ di lokasi, Sabtu, 17 Maret 2018.

Sebagai langkah pengobatan awal, pihaknya melalui Puskesmas Lapang akan membawa kedua bocah itu ke RSUD Cut Mutia untuk menjalani fisioterapi secara rutin. Selain itu, Puskesmas juga akan memberi makanan tambahan secara intens.

“Kita bisa belum bisa menyampaikan ini penyakit apa, yang jelas ada gangguan saraf hingga membuat tangan dan kakinya lemah. Ini tidak lumpuh, karena masih bisa gerak. InshaAllah masih bisa ditangani dengan pengobatan fisioterapi intens ke rumah sakit. Kita juga akan pantau asupan makanan tambahannya. Paling penting fisioterapi tadi, nantinya akan diberikan obat saraf dan akan dilihat lebih jauh oleh dokter anak dan dokter saraf. Selain itu, ini dalam satu keluarga ada dua anak dengan gejala penyakit yang sama, makanya nanti akan dilihat oleh dokter spesialis dari mana penyakit ini,” terang dr. Machrozal.

Terkait Raza Faradila, bocah penderita lumpuh layu di Gampong Matang Tunong, dr. Machrozal juga memastikan itu bukan lumpuh akibat polio. “Ini juga bukan polio, pengakuan ibunya usia 1 tahun pernah kejang demam, kemungkinan di atas 40 derajat, makanya kena saraf atau biasa dikenal dengan istilah step,” ucap Machrozal.

Machrozal mengimbau kepada masyarakat, apabila anak kejang segera buka baju dan kompres di ketiak dan sela paha. “Jangan karena melihat anak menggigil mengira itu kedinginan, karena itu terjadi akibat demam tinggi. Jangan selimuti karena akan semakin tinggi panasnya, bisa kena saraf-saraf di otak hingga merusak alat gerak motoriknya. Tadi kita lihat sensorik suaranya juga, kemungkinan ada kena saraf yang lain. Terkait dirujuk atau tidak, nanti diperiksa dulu oleh dokter spesialis, merekalah yang tahu apakah harus dirujuk atau tidak. Kita berikan fisioterapi rutin dulu,” pungkas dr. Machrozal.[]